ROADSHOW PELAYANAN PUBLIK


Menggali Pengalaman dari Lurah Bangka : Di Usia Senja Tetap Gigih Berinovasi

Kamis, 24 Maret 2016 | 12:59:57 WIB - Jumlah Dilihat: 404
 

Kelurahan Bangka merupakan wilayah kelurahan yang berada di kawasan Jakarta Selatan, tepatnya di Kecamatan Mampang Prapatan. Kelurahan Bangka mempunyai banyak potensi menjadi kelurahan unggulan di kawasan tersebut. Perumahan mewah banyak terdapat di sekitar Kelurahan Bangka, hal itu pula yang membuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat menjanjikan.

Kelurahan Bangka yang sudah terkenal dengan kawasan kelas atas tidak lantas lepas dari masalah kependudukan. Problema yang terjadi di Kelurahan Bangka bisa dipantau melalui aplikasi Qlue. Aplikasi Qlue adalah salah satu jaringan aplikasi yang telah terintegrasi dengan sistem Jakarta Smart City. Dengan adanya aplikasi Qlue, masyarakat dapat melaporkan secara langsung masalah apapun yang terjadi di kawasan kelurahan yang berada di DKI Jakarta, khususnya Kelurahan Bangka. Pada periode Agustus tahun 2015 Kelurahan dianugerahi penghargaan Juara 2 oleh Gubernur Ahok. Penghargaan itu diraih berkat prestasi Kelurahan Bangka yang secara cepat merespon setiap permasalahan yang dikeluhkan masyarakat melalui aplikasi Qlue. Bapak Dedih Suhada, selaku Lurah Bangka tidak pernah menyangka akan mendapat penghargaan hingga mampu menyabet juara 2 karena pada awalnya Gubernur Ahok tidak pernah memberitahukan jika akan ada penghargaan tersebut. Beliau merasa bersyukur mendapat anugerah juara dan akan terus meningkatkan kinerja dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Keberadaan Petugas pemeliharaan prasarana dan sarana umum (PPSU) yang bekerja langsung di lapangan dalam menanggapi masalah yang telah diposting dalam aplikasi Qlue membuat pelaksanaan aplikasi Qlue berjalan dengan efektif. Di lain sisi, keberadaan PPSU yang kerap menjaga kebersihan di kawasan Kelurahan Bangka membuat budaya kerja bakti setiap minggu berangsur-angsur menghilang. Penduduk disana yang notabene kelas atas merasa malas melakukan kerja bakti karena merasa telah tergantung dengan kinerja PPSU. Lurah Bangka kemudian langkah persuasif untuk menghidupkan budaya kerja bakti. Beliau mengadakan sosialisasi Jumat Bersih. Program Jumat Bersih adalah kegiatan yang diadakan oleh pihak kelurahan Bangka yang diadakan setiap hari Jumat dalam rangka menyaring aspirasi masyarakat menyangkut persoalan kebersihan, keamanan dan juga kesehatan.

Forum yang hampir mirip dengan Jumat Bersih juga tengah digalakkan oleh Bapak Dedih Suhada seperti Tarling (Tarawih Keliling) dan arisan keliling. Kedua program tersebut pada intinya adalah mempunyai tujuan yang sama yaitu menggali informasi sebanyak-banyaknya apa yang terjadi di masyarakat agar dapat cepat ditindaklanjuti oleh pihak kelurahan Bangka.

Masalah yang banyak dikeluhkan oleh masyarakat sekitar daerah Bangka adalah adanya menjamurnya bangunan yang berdiri di sekitar selokan atau tempat aliran air. Bangunan yang berada di kawasan penampungan air dikhawatirkan dapat menimbulkan bencana banjir karena terhambatnya aliran air menuju muara (laut).

Masalah banjir di Kelurahan Bangka ternyata tidak hanya disebabkan oleh bangunan yang berdiri di atas selokan, tetapi juga kiriman air dari daerah Bogor. Daerah yang sering terdampak banjir adalah daerah yang tepat berada di sekitar sungai yang membentang di Kelurahan Bangka. Penduduk yang terdampak banjir tidak pernah mau dipindahkan meski daerah setiap tahun rutin mengalami banjir. Persoalan timbul karena mahalnya harga tanah di sekitar Kelurahan Bangka yang sudah sangat mahal yaitu sekitar 25 juta untuk setiap meter persegi.

Banjir yang kerap melanda membuat pemikiran antisipatif dari pimpinan Lurah Bangka. Beliau membuat langkah cepat dengan menyiapkan perahu dan tenda, membangun dapur umum di lokasi yang memiliki permukaan lebih tinggi. Cara tersebut dianggap paling tepat mengingat banjir menjadi agenda rutinitas yang terjadi di Kelurahan Bangka.

Kelurahan Bangka yang tebagi dalam ke dalam beberapa Rukun Warga (RW), lebih tepatnya 5 RW telah diklasifikasikan menjadi tiga jenis RW. Pembagiannya adalah RW Unggulan, RW Binaan dan RW Minus. RW Unggulan adalah RW yang dapat dijadikan panutan oleh RW lainnya terkait masalah pengolahan sampah, peningkatan keamanan dan hal penting lainnya. RW Binaan itu sendiri adalah RW yang telah diupayakan oleh Lurah Bangka untuk menjadi RW Unggulan yang tentunya membutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan. RW Unggulan dipandang telah memiliki potensi yang memadai untuk menjadi RW Unggulan. Tidak lupa pula, RW minus adalah RW yang masih dilanda masalah kependudukan sehingga diperlukan upaya intensif untuk menanggulangi masalah tersebut. Klasifikasi pembagian RW tersebut dapat meningkatkan fokus kinerja kelurahan dalam memberikan tindak lanjut karena adanya identifikasi awal.

Peningkatan kinerja yang ditunjukkan oleh Bapak Dedih Suhada menunjukkan bahwa usia beliau yang sebentar lagi memasuki pensiun tidak menghalangi semangatnya untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik kepada masyarakat kelurahan Bangka. Beliau telah membuktikan pergantian kepemimpinan pada masa Ahok maupun sebelumnya tidak membuatnya lengser dari jabatan Lurah. Dengan memberikan kinerja terbaik, maka semua orang bisa melihat dan merasakan dampaknya tanpa kita harus menggembar-gemborkan prestasi kita.