BERITA


Dengan PELUK MY DARLING, Pasien Kusta Bisa Sembuh Lebih Cepat.

Rabu, 21 Februari 2018 | 08:29:54 WIB - Jumlah Dilihat: 137
 

Dengan PELUK MY DARLING, Pasien Kusta Bisa Sembuh Lebih Cepat.

 

Hingga saat ini penyakit kusta masih dianggap sebagai kutukan bagi beberapa pasiennya. Hal ini dikarenakan penderita kusta biasanya terkucilkan oleh lingkungan sekitar sehingga tak jarang beberapa diantaranya kehilangan fungsi sosial ekonominya. Kusta, yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit Hansen, adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot, dan mati rasa. Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita.

Penemuan kasus baru untuk penyakit kusta di Indonesia tergolong tinggi  yaitu kurang dari 15 ribu kasus per tahunnya. Indonesia menempati urutan ketiga, setelah India dan Brasil, untuk penemuan kasus baru penyakit kusta pada tahun 2015.  Sebenarnya kusta adalah penyakit yang dapat diobati, namun adanya stigma negatif di masyarakat seringkali menyebabkan munculnya diskriminasi terhadap penderitanya. Stigma negatif dan diskriminasi ini berakibat kepada penemuan kasus baru dan pengobatan yang tertunda

PELUK My Darling merupakan salah satu inovasi karya Unit Rehabilitasi Kusta Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kelet, Jepara, Jawa Tengah. Peluk My Darling kependekan dari Perawatan Luka Kusta Menyeluruh dengan Garden Healing. Sejak 2015, Unit Rehabilitasi Kusta di RS yang menjadi pusat rujukan kusta di Jawa Tengah itu telah memaksimalkan lahan yang dimilikinya, yang selain terdiri atas bangunan RS, juga meliputi hutan konservasi, sawah, kebun, hingga pantai untuk mendukung Peluk My Darling ini. Lama rawat pasien kusta yang cukup panjang hingga mencapai hitungan bulan hingga tahun, tingginya dampak psikologis, rendahnya kualitas hidup, dan tingginya stigma memacu tim RS memanfaatkan lahan untuk digunakan sebagai taman perawatan untuk mendukung perbaikan kondisi psikologis pasien. Pelayanan kesehatan ini juga dilakukan secara kolaborasi tenaga kesehatan dengan berbagai disiplin ilmu meliputi dokter, perawat, fisioterapis, psikolog, ahli NLP (Neurolinguistic Programe), dan vocational training mengusung prinsip Patient Centre Care. Pelayanan kesehatan holistik ini sesuai dengan konsep Sehat 4.0 (biopsikososiospiritual).

Dengan cara garden healing seperti ini, ternyata pasien lebih merasa nyaman dalam proses penyembuhan. Secara psikologis, kondisi pasien yang nyaman dan lebih senang ini dapat membantu proses kesembuhan lebih cepat. Dari yang biasanya enam sampai tujuh bulan, menjadi tiga bulan saja. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) bahkan telah memilih program inovasi bagi pasien kusta ini sebagai salah satu Top 40 Inovasi Pelayanan Publik 2017. Kedepannya, program inovasi ini akan direplikasikan dalam pelayanan kusta di beberapa Rumah Sakit dan Puskesmas di Jawa Tengah. (Rahmatul Isnani – P2IPK)