ARTIKEL


WARUNG INTEGRITAS DIAN (Warteg DIAN)

Selasa, 20 Februari 2018 | 09:23:06 WIB - Jumlah Dilihat: 136
 

WARUNG INTEGRITAS DIAN (Warteg DIAN)

Setiap instansi pemerintah pasti memiliki nilai – nilai atau budaya – budaya yang memiliki karakteristik masing – masing. Budaya tersebut merupakan landasan setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam bekerja. Harapannya, dengan budaya yang diciptakan dalam lingkungan kerja akan meningkatkan produktivitas kerja dan pribadi yang mencerminkan budaya tersebut. Semakin kental dan merata budaya yang dimiliki semakin mencerminkan instansi pemerintah tersebut memiliki lingkungan kerja yang baik. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI) sendiri memiliki budaya atau nilai yang selalu menjadikan roh bagi ASN di dalamnya. Tidak terkecuali budaya itu harapannya akan dimiliki mulai dari Kepala LAN hingga fungsional dan administrator di dalamnya.

Nilai – nilai atau budaya yang dimiliki oleh LAN disingkat dengan IPIP, yaitu Integritas, Profesional, Inovatif dan Peduli. Setiap nilai – nilai tersebut memiliki karakteristik masing – masing. Integritas menciptakan ASN yang jujur dalam bekerja serta kesesuaian antara apa yang diucapkan dan yang dilaksanakan. Kemudian profesional, dimana mengutamakan kepentingan institusi/lembaga dibandingkan dengan kepentingan pribadi. Disini LAN akan membentuk ASN yang selalu memiliki dedikasi untuk instansinya sendiri agar terhindar dari praktek suap ataupun korupsi yang mencerminkan ketidakprofesionalan ASN. Selanjutnya adalah inovatif, istilah ini sudah tidak asing bagi penulis karena ditempatkan di Kedeputian Inovasi Administrasi Negara. Harapannya dengan ASN yang inovatif adalah ASN LAN memiliki ide atau gagasan pada setiap keresahan atau permasalahan dalam pekerjaan dan direspon cepat sehingga mencegah dan menghindari dampak dari permasalahan tersebut. Inovatif sendiri diwajibkan dimiliki setiap ASN bahkan menjadi ruh setiap ASN yang merupakan kegiatan yang terus menerus dilakukan dan berkesinambungan. Kemudian yang terakhir adalah peduli, yaitu rasa memiliki satu sama lain dan bisa merasakan apa yang dirasakan ASN lainnya ketika dalam suka dan duka lalu diungkapkan dengan sikap ataupun ucapan. Penulis mengistilahkannya dengan united as a team, yang makna maknanya hampir sama dengan peduli.

Menurut penulis nilai – nilai LAN diatas sangat cocok untuk dijiwai oleh setiap ASN, karena nilai tersebut nantinya akan menuntun kita ke koridor bekerja yang positif dan terhindar dari penyimpangan – penyimpangan seperti yang penulis sebutkan diatas. Nilai atau budaya diatas tentulah tidak serta merta langsung berada dalam diri masing – masing aparatur sipil negara. Namun, perlu waktu dan proses yang tidak singkat untuk menanamkan mental integritas, profesional, inovatif dan peduli. Perlu usaha ataupun kegiatan yang mampu mendorong setiap ASN agar mempunyai nilai – nilai terasebut.

Dari keempat nilai diatas menurut penulis yang menjadi landasan utama yang wajib dimiliki ASN adalah integritas. Hampir setiap instansi pemerintahan dan swasta memiliki nilai integritas. 2 perusahaan swasta yang penulis pernah bekerja selalu menerapkan nilai integritasi yang wajib dimiliki dan yang paling utama. Integritas merupakan modal dasar yang harus dimiliki ASN karena menyangkut kejujuran dan konsistensi. Jika seseorang dari awal sudah tidak memiliki prinsip konsistensi, maka untuk menjadikan seseorang itu agar memiliki prinsip profesional, inovatif dan peduli tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik. Bagi pemimpin, integritas adalah segalanya dan sebagai atribut/kunci yang harus dimiliki. Sikap yang teguh mempertahankan prinsip , tidak mau korupsi, dan menjadi dasar yang melekat pada diri pemimpin sebagai nilai-nilai moral.

Dalam mengukur integritas pun sebenarnya masih bersifat abstrak, belum ada pengukuran baku dalam melihat sejauh mana integritas yang dimiliki oleh seseorang. Namun, untuk menciptakan jiwa integritas perlu adanya kegiatan dalam lingkungan LAN. Kegiatan tersebut tidak selalu berbentuk upgrading, diklat, ataupun kepelatihan lainnya. Untuk melihat integritas unit organisasi di LAN ada hal – hal sederhana yang bisa dilakukan dan tidak perlu mengorbankan jam kerja efektif.

Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan dalam membangun integritas di lingkungan Lembaga Administrasi Negara adalah Warung Integrity (WARTEG). Konsepnya adalah warung berbentuk rak ini bersifat self service, yaitu pembeli membayar dan mengambil kembalian sendiri tanpa dilayani oleh seorang pramuniaga layaknya minimarket. Pembeli berasal dari unit kerja tertentu dan tamu yang datang (baik eksternal maupun internal) ke unit kerja tersebut. Produk yang dijual adalah snack atau makanan ringan sebagai makanan penunda lapar disaat jam kerja. Sebagai simulasi kegiatan warteg ini penulis merekomendasikan agar Kedeputian Inovasi Administrasi Negara dapat menyelenggarakannya dalam periode tertentu. Nantinya di unit DIAN akan melakukan trial and error apakah warteg ini bisa diterapkan di unit LAN RI. Jika dalam satu waktu warteg tersebut berkembang dan modalnya bertambah maka ada indikasi kejujuran yang dimiliki unit kerja DIAN. Namun jika terjadi hal sebaliknya yaitu warteg bangkrut dan tidak berkembang maka integritas/kejujuran unit kerja DIAN masih perlu diperbaiki.

Implementasi nilai-nilai integritas dalam aplikasi warteg DIAN dapat tercermin dalam peningkatan keuntungan Warteg tersebut (selisih positif antara penjualan dan modal). Peningkatan laba/keuntungan tersebut mengisyaratkan bahwa warteg DIAN tersebut berpotensi untuk berkembang. Meskipun berbentuk sederhana, namun penulis berpendapat bahwa kegiatan ini jika dilakukan terus menerus dan berkesinambungan akan membentuk karakter Aparatur Sipil Negara LAN menjadi pribadi yang jujur dan memiliki jiwa anti korupsi dan meciptakan kewibawaan bagi pemimpin. (ADHITO NUGRAHA BARSEI-P2IPK)