ARTIKEL


“INOVASI DENGAN PENDEKATAN PERSONAL”

Kamis, 15 Februari 2018 | 05:29:47 WIB - Jumlah Dilihat: 139
 

 “INOVASI DENGAN PENDEKATAN PERSONAL

 

Tidak terasa minggu pertama bekerja sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Lembaga Administrasi Negara (LAN) sudah dilewati. Beberapa hal mulai terasa lebih mudah untuk dijalankan, mungkin karna mulai menjadi kebiasaan. Pagi itu hari Rabu tanggal 17 Januari, saya diminta untuk mempresentasikan Rencana Anggaran Kegiatan Program Tahun 2018 di unit kerja saya yaitu unit kerjasama dan pengembangan kapasitas. Tidak banyak waktu yang saya miliki untuk sekedar mempelajari  apa saja yang akan saya presentasikan nanti. Saya pun cukup merasa khawatir apakah saya mampu menjelaskannya dengan baik sesuai yang diharapkan rekan-rekan kerja lainnya, tetapi saya sadar terkadang kita harus membiarkan diri kita menjadi pemula karna “no one starts off being excellent”. Kalimat yang kerap saya temukan dibeberapa bacaan, yang terdengar mudah tetapi tidak cukup mudah ketika saya pun pribadi yang cukup perfeksionis. Presentasi pun selesai dengan cukup baik dan lancar, walaupun saya merasa tetap banyak yang harus diperbaiki.

            Beberapa pekerjaan lain saya kerjakan. Saya mulai mengenal lebih jauh apa itu Laboratorium Inovasi dan bagaimana program tersebut banyak memberikan manfaat bagi kemajuan daerah-daerah yang ada di tanah air ini. Melihat latar belakang pendidikan dan pengalaman yang saya miliki, Mbak Sabrina rekan kerja saya dari unit Pusat Promosi meminta saya untuk melakukan review terhadap MOU antara LAN dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo yang akan bekerja sama membuat Lab Inovasi. Beberapa catatan saya berikan agar MOU tersebut menjadi lebih baik dan sesuai.

            Kabar menyenangkan yang saya dengar sebetulnya dari minggu sebelumnya adalah  pada hari Senin nanti tanggal 22 Januari, LAN akan mendapat kunjungan dari The Korea Institute of Public Administration atau yang dengan lebih mudah biasa kami sebut dengan KIPA. Saya diminta untuk membuat semacam welcoming presentation untuk menyambut para delegasi yang akan datang mewakili KIPA. Presentasi itupun selain berisi penyambutan untuk para delegasi juga berisi gambaran singkat mengenai LAN dan juga apa saja program-program yang menjadi higlight di LAN beberapa tahun belakangan ini yang tentunya dibuat dalam bahasa inggris yang akan membuat para delegasi lebih mudah untuk memahaminya.

            Hari-hari selanjutnya, LAN membuat “Workshop Inovasi” yang diikuti oleh Deputi Kajian Kebijakan (DKK) dan juga Deputi Inovasi Administrasi Negara (DIAN). Kegiatan tersebut sangatlah menarik, selain mengasah kreatifitas kami para CPNS dalam membuat inovasi tetapi juga membuat kamu menjadi lebih percaya diri dengan berlatih melakukan presentasi maupun diskusi dilingkup yang lebih luas.

            Setiap kali kami CPNS mengikuti sebuah kegiatan seperti Workshop maupun DIAN Sharing, Mas Marpaung sebagai Kepala Pusat P2IPK selalu memanggil kami para CPNS keruangan nya untuk berdiskusi. Beliau selalu menanyakan 4 (empat) hal yaitu, apa saja konten yang ada dalam program yang telah kami ikuti, apa komentar kami, apa hal yang dapat kami ambil dan apa yang dapat kami terapkan dalam bidang pekerjaan kami. Saya sangat tertarik setiap diskusi ini dilakukan, karna saya percaya “a great minds discuss about ideas”. Hasil-hasil diskusi itu seringkali melahirkan sebuah gagasan baru yang berguna dalam pekerjaan saya sebagai seorang Analis Kebijakan.

            “So what can you learn about it?”, Mas Marpaung menyakan ini kepada kami. Bagian pertanyaan yang saya suka dibandingkan pertanyaan lainnya. Saya menjawab dan menjelaskan, Workshop Inovasi yang baru saja saya ikuti membuat saya memikirkan suatu hal. Menyadari inovasi merupakan hal yang sangat penting, seperti banyak yang beranggapan “so little time while so many things to do” dan juga kebutuhan yang terus berkembang, manusia harus terus melakukan inovasi untuk memenuhi kewajiban maupun kebutuhannya.

            Hal yang saya ambil yang sebelumnya tidak dibahas dalam workshop tersebut adalah, sudah saatnya kita tidak lagi memandang inovasi merupakan sebuah kewajiban. Hanya sebatas karna LAN dimana tempat kita bekerja mendorong kita untuk membuat inovasi, atau hanya sekedar tuntutan pekerjaan kita belaka, tapi hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah melakukan inovasi dengan pendekan yang lebih personal. Inovasi bukan tuntutan pekerjaan, tapi sadarilah bahwa inovasi adalah suatu kebutuhan kita pribadi, as a person not even as an employee or ASN.

            Setiap harinya, kita sebagai manusia yang memiliki peran masing-masing dalam kehidupan ini perlu untuk secara kreatif membuat inovasi-inovasi yang bermanfaat untuk diri kita pribadi dan lingkungan sekitar kita. Albert Einstein pernah berkata “We can't solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them” itulah mengapa kita sebagai pribadi, harus terus berinovasi. Kita tidak akan bisa menggunakan pola pikir yang sama yang sebelumnya kita gunakan, untuk menyelesaikan masalah yang kemudian hari muncul ketika hidup ini terlalu dinamis untuk kita tidak berinovasi.

            Setiap harinya, setiap peran yang kita jalankan kita akan selalu dihadapkan dengan situasi baru dan kita bisa memilih untuk melihatnya sebagai masalah dan hanya mengeluh saja, atau sebagai tantangan yang memacu kita untuk menjadi solutif. Jumat lalu ketika DIAN sharing diadakan, Mas Tri Widodo sempat menerangkan beliau pernah membaca buku Ajahn Brahm yang berjudul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Saya teringat pernah juga membaca buku itu sekitar tahun 2010 lalu. Salah satu kutipan Ajahn Brahm yang saya suka adalah “Complaining is finding faults, wisdom is finding solutions,  jadi ketika kita dihadapkan dengan suatu masalah adalah hal bijak ketika kita berinovasi dan memecahkan masalah yang ada dibandingkan hanya mengeluhkan keadaan yang ada saja.

            Pemikiran Ajahn Brahm yang diceritakannya dalam bukunya terkait berbagai kejadian-kejadian dalam kehidupannya dan ditekankan dimana kekuatan pikiran kita lah yang dapat mengubah hidup kita. Cerita yang paling saya ingat dalam buku itu setelah tujuh tahun lalu membacanya adalah ketika ia pernah merasakan sakit gigi yang luar biasa dan tidak ada yang membantunya, namun dibandingkan mengeluh dan terlarut dalam rasa sakit itu Ajahn Brahm memilih untuk berdamai dengan rasa sakitnya dan menganggap bahwa sakit adalah hal yang biasa saja dan ketika itulah rasa sakit itu berkurang dan hilang.

            Apakah hal tersebut relevan dengan pendapat saya bahwa inovasi akan lebih baik ketika kita melakukannya dengan pendekatan yang lebih personal, tentu saja ada relevansinya. Mulailah kita saat ini merubah mindset kita, bahwa segala tantangan yang kita hadapi adalah suatu hal bukan hanya sekedar kita keluhkan, atau hanya sekedar menuntut orang lain untuk menyelesaikan masalah tersebut. Seperti dalam hal administrasi negara, bukan lagi saat nya kita hanya menuntut pemerintah dan ataupun institusi lainnya untuk dapat memberikan solusi dalam setiap masalah di tanah air ini, tapi kita sebagai pribadi, sebagai ASN harus bisa menggunakan potensi yang kita miliki untuk berinovasi sebagai solusi yang menjawab tantangan-tantangan tersebut. Seketika itu juga kita mulai menerapkan nilai bahwa inovasi, adalah kebutuhan dalam hidup kita yang sepenuh hati akan kita lakukan dan bukan lagi sekedar sebuah tuntutan belaka.

            Dengan adanya mindset tersebut, secara sadar ataupun tidak produk-produk ataupun gagasan inovasi yang kita lahirkan dari hasil kita menganalisa dan berpikir akan menjadi sebuah inovasi yang sangat luar biasa yang mejawab segala tantangan kebutuhan secara lebih aktual.

Selain peran kita sebagai ASN, sesungguhnya kita adalah warga sipil pada umumnya yang juga hidup dalam komunitas masyarakat yang ada, untuk itu setiap langkah ataupun gagasan yang kita ambil dalam berinovasi dan melayani masyarakat lainnya sebagai ASN, akan lebih baik jika kita menempatkan diri  kita sebagai warga sipil biasa yang memiliki masalah dan tantangan, sehingga kita dapat memberikan kontribusi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan yang memang  perlukan. Saya teringat, Rasulullah SAW pernah bersabda “Ibda Bi Nafsika”, yang artinya mulailah dari diri sendiri dan itulah sesungguhnya kunci perubahan yang lebih baik. (Nadine Amarsha S.H, M.H-P2IPK)