ARTIKEL


ASN Sebagai Tenaga Kerja dan Produktivitasnya

Selasa, 13 Februari 2018 | 04:56:20 WIB - Jumlah Dilihat: 17
 

Perubahan lingkungan strategis akibat adanya globalisasi dan dimulainya era distruptif dimana yang lambat beradaptasi akan ditinggalkan sudah nyata terjadi. ASN sebagai tenaga kerja yang memberikan layanan publik harus terus melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perubahan melalui proses kerja yang efektif, efisien, cepat, dan berkualitas untuk meningkatkan produktivitas layanan kepada masyarakat. ASN sebagai sumberdanya instansi pemerintah harus dapat memberikan pelayanan publik yang prima sebagai wujud dari peningkatan produktivitas kinerja pemerintah. Jika diibaratkan perusahaan, Peningkatan produktivitas perusahaan dapat diwujudkan melalui peningkatan  produktivitas  tenaga  kerja. Hal ini ditunjukkan dengan bertambahnya produk yang dihasilkan perusahaan serta meningkatnya kualitas produk perusahaan.

Membicarakan tenaga kerja, ada baiknya terlebih dahulu apa itu tenaga kerja. Menurut Data Statistik Indonesia (2014), Tenaga Kerja (manpower) adalah seluruh penduduk dalam usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih) yang potensial dapat memproduksi barang dan jasa. Sedangkan menurut pendapat Sumitro Djojohadikusumo (1987) seperti yang dikutip oleh Shihatin (2014) mengenai arti tenaga kerja adalah semua orang yang bersedia dan sanggup bekerja, termasuk mereka yang menganggur meskipun bersedia dan sanggup bekerja dan mereka yang menganggur terpaksa akibat tidak ada kesempatan kerja. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tetang ketenagakerjaan, yang disebut sebagai tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat.  Bisa dikatakan tenaga kerja adalah Seseorang atau sekelompok orang memiliki potensi untuk bekerja dalam rangka memproduksi barang atau jasa meskipun belum mendapat kesempatan untuk bekerja.

Produktivitas tenaga kerja menggambarkan  ukuran  kinerja  melalui pemanfaatan  setiap  satu  satuan  tenaga  kerja  yang  digunakan  untuk menghasilkan output kepada perusahaan. Kegagalan tenaga kerja dalam  memenuhi  sasaran  mutu  perusahaan  antara  lain  disebabkan  kurangnya pengawasan yang dilakukan manajemen terhadap hasil kerja mereka. Selain itu, tenaga kerja dinilai kurang terampil dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi pada pekerjaannya sehingga sering menghabiskan waktu yang panjang dalam menyelesaikan  masalah  tersebut. Produktifitas sendiri menurut Sinulingga (2010:7) merupakan suatu ukuran kinerja perusahaan yang menunjukkan seberapa baik pemanfaatan input menjadi output. Input merupakan segala bentuk sumber daya yang digunakan dalam produksi dan  membentuk  biaya  produksi  seperti  tenaga  kerja  (man-hours), material,  energi, kapital yang meliputi peralatan dan mesin, dll

Secara konsep produksi diatas, dengan banyaknya tenaga yang bekerja maka akan meningkatkan hasil produksi, dengan kata lain meningkatnya produktifitas. Namun pada kenyataannya hal ini bisa tidak berlaku. Karena ada faktor yang menyebabkan produktivitas tidak akan banyak berubah meskipun tenaga kerja bertambah. Menurut Siagian (2002) Keberhasilan peningkatan  produktivitas  akan  terjadi  apabila  adanya  perbaikan terus  menerus, peningkatan mutu hasil pekerjaan, pemberdayaan sumber daya manusia, kondisi fisik tempat kerja yang menyenangkan, serta filsafat organisasi.

Produktivitas kerja sangat dipengaruhi atas motivasi dan kepuasan kerja. Jika tenaga kerja (dalam hal ini ASN) memiliki motivasi untuk melaksanakan tugas dan fungsinya, maka mereka akan berusaha menyelesaikan pekerjaan secara maksimal. Apapun hasil dari tugas yang dilakukan, mereka akan mendapatkan kepuasan terhadap apa yang dikerjakan. Untuk menggali motivasi dan kepuasan kerja ini instansi/organisasi dapat menerapkan sisten reward dan punishment. Kepuasan  karyawan  yang  tinggi  di  antara  para  pegawai  merupakan  prasyarat untuk meningkatkan produktivitas kerja, daya tanggap, kualitas hasil, dan pelayanan terhadap pelanggan. Selain itu motivasi dan kepuasan kerja memiliki hubungan yang signifikan  (Salanova, A,  dan  Kirmanen,S.,2010). Asas motivasi yang diterapkan mampu meningkatkan produktivitas kerja dan memberikan  kepuasan  kerja  kepada  karyawan.  Karyawan  yang  memiliki kepuasan kerja yang tinggi akan memiliki kinerja yang baik sehingga berdampak langsung pada produktivitas tenaga kerja (Hasibuan, M. S. P., 2000: 146).

Selain motivasi dan kepuasan kerja, lingkungan dan iklim kerja yang baik dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap produktivitas. Kompetensi pegawai/ ASN yang melaksanakan tugas dan fungsi juga menjadi faktor yang mempengaruhi apakah produktivitas akan meningkat atau malah stagnan.  Namun organisasi yang memiliki perencanaan yang baik haru selalu menyediakan fasilitas pengembangan diri bagi pegawai/ASN yang menaungannya melalui pelatihan dan pendidikan. Pegawai/ASN  yang  produktif  memerlukan  keterampilan  kerja  yang sesuai dengan  beban  dan  deskripsi  pekerjaan.Berdasarkan penjelasan diatas penyebab banyaknya tenaga kerja yang terus meningkat akan tetapi produktivitas stagnan dapat disebabkan faktor motivasi dari ASN, kepuasan kerja ASN, lingkungan dan iklim kerja yang baik serta kompetensi ASN yang sesuai dengan tugasnya. (Witra)