ARTIKEL


Benarkah Inovasi Harga Mati ?

Jumat, 9 Februari 2018 | 08:14:59 WIB - Jumlah Dilihat: 54
 

Sadar atau tidak, saat ini kita tengah diperhadapkan pada situasi global yang mengalami perubahan dengan sangat cepat. Hal yang menyebabkan sejumlah pertanyaan terkait dilema perubahan bermunculan dan kerapkali dilontarkan berbagai pihak. Bisakah organisasi bertahan dalam lingkungan yang bergerak dan berubah dengan sangat cepat itu ?

Sekilas melihat kebelakang. Kita tentu pernah mendengar, bagaimana kejayaan produk Nokia dalam memproduksi teknologi komunikasi. Bahkan Nokia dulu pernah menyebut Android sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati. Ataukah kiprah raksasa kamera film bernama Kodak yang dulu menguasai industri kamera fotografi tanpa saingan yang mendominasi. Akan tetapi, perjalanan mereka sepertinya tak semulus yang kita bayangkan. Perubahan menggerus keduanya, hingga perlahan ambruk. Raksasa ini mengalami kematian, terkunci pada zona nyaman karena enggan untuk melakukan transformasi.

Dunia tengah menyaksikan, ternyata tidak sedikit dari organisasi mampu bertahan menghadapi perubahan. Arogansi dan rasa percaya diri yang berlebihan membuat organisasi kadang terjebak pada keyakinan bahwa lingkungan hanya menjadi faktor yang tidak perlu dikhawatirkan. Mengakibatkan tren organisasi untuk senantiasa mengikuti perubahan lingkungan menjadi sesuatu hal yang tidak begitu penting untuk dilakukan lagi. Alhasil, banyak bisnis yang terlalu mencintai produknya secara berlebihan. Rasa cinta yang acapkali membuat mereka justru terpelanting ke dalam bibir kematian.

Persoalan demikian marak terjadi di tengah dunia yang berubah. Setidaknya itu telah memberikan kita banyak pelajaran dan jawaban, bahwa melakukan perubahan dan pembaharuan adalah kunci utama menghapus sejarah kelam, tumbangnya para raksasa yang dulu sempat menjadi penguasa. Oleh karena itu, solusi utama yang mampu menjauhkan organisasi dari jurang kematian, tidak lain adalah dengan melakukan satu langkah perubahan bernama Inovasi.

Pertanyaannya, lantas bagaimana dengan sektor publik ? Apakah situasi krisis hingga kematian ini bisa melanda juga dengan konteks yang sama. Ataukah justru sebaliknya, sektor publik bukanlah objek yang terkena dampak dari proses perubahan. Tentu, pertanyaan ini akan dapat terjawab secara jelas dengan menganalisis pondasi keberadaan dari inovasi itu sendiri.

Inovasi pada dasarnya meletakkan pembaharuan sebagai aspek utama. Pembaharuan inilah yang kemudian melahirkan dampak kemanfaatan dan menjadi solusi untuk menjawab segala tantangan dengan berdasar pada kebutuhan-kebutuhan baru sebagai dampak dari proses perubahan. Berinovasi berarti memastikan daya kreativitas terwujud secara konkret ke dalam sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Karena dalam konsep inovasi terdapat keyakinan bahwa kreativitas kita hari ini, pasti akan dengan mudah digilas oleh kreativitas hari esok. Jadi siapapun yang ingin bertahan maka hendaknya berfikir seribu langkah kedepan, menciptakan kreativitas-kreativitas yang lebih baik dari hari ini.

Untuk konteks sektor publik, terdapat beberapa contoh dan fakta menarik untuk ditelaah lebih jauh. Sesuatu yang bisa memberikan gambaran ataupun perbandingan terhadap kondisi organisasi publik, khususnya di Indonesia. Misalnya saja, data Kemendagri yang menyebutkan bahwa 67 persen daerah hasil pemekaran, ternyata tak sesuai dengan harapan dan gagal menerapkan otonomi daerah karena terus menerus membebani APBN. Selain itu, terdapat juga kasus dimana daerah yang dulunya pernah mengalami kejayaan namun saat ini ditetapkan pemerintah sebagai daerah tertinggal. Kedua contoh diatas memiliki satu kemiripan yang sama, dimana daerah tersebut mengalami penurunan kuaitas dan sedang diperhadapkan pada kondisi krisis.

Kasus diatas setidaknya telah memberikan kita sedikit pemahaman dasar. Kegagalan yang terjadi pada organisasi bisnis/privat ternyata bisa pula menimpa organisasi di sektor publik. Meskipun dengan beberapa faktor yang bisa saja berbeda. Tetapi setidaknya, itu telah cukup memberikan kita kesimpulan awal bahwa organisasi sektor publik sejatinya harus melakukan upaya perubahan agar tidak terjebak dalam situasi krisis hingga berujung pada ketidakpercayaan masyarakat.

Sebenarnya, kesulitan utama melakukan inovasi disektor publik berasal dari keberadaan mindset yang masih tradisional mengenai pentingnya suatu perubahan dilakukan. Mindset sektor publik belum menempatkan inovasi sebagai kewajiban, tapi masih sebatas sebuah alternatif pilihan (optional) semata. Situasi ini diperkuat oleh fakta beberapa budaya birokrasi yang kadang terlihat kesulitan untuk keluar dari zona nyaman dan cenderung resistensi terhadap perubahan.

Kejadian tak kalah menarik lainnya adalah ketakutan aparat birokrat yang sepenuhnya belum hilang dan menganggap inovasi sangat rentan dengan perbuatan melawan hukum, sehingga menjadikan inovasi sebagai kambing hitam atas sejumlah tindakan kriminal. Padahal, inovasi bukanlah perbuatan melawan hukum, karena keduanya merupakan sesuatu hal yang jauh berbeda. Inovasi menciptakan kebaharuan dan kemanfaatan bagi pemerintahan dan masyarakat, sedangkan perbuatan melawan hukum didasarkan pada kepentingan individu atau kelompok, berdiri diatas pembenaran terhadap sejumlah aturan yang ada.

Ketika suatu organisasi publik tidak melakukan inovasi maka yakinlah fungsi yang akan dijalankan tidak membuahkan kepuasan dan kepercayaan. Semakin inovatif suatu penyelenggara pemerintahan, semakin besar pula kemungkinan terpenuhinya kebutuhan dalam masyarakat. Maka tentu akan menjadi sangat ironi, jikalau fungsi pemerintahan yang sejatinya memberikan pelayanan dan pemenuhan kebutuhan bagi masyarakat justru tidak sesuai dengan keadaan aktual yang terjadi. Menjadikannya bias dan tak berguna sama sekali.

Kecenderungan pemikiran untuk tidak mempersoalakan perlunya inovasi di sektor publik haruslah dibuang jauh-jauh. Pergeseran atau perubahan kebutuhan, perilaku, dan kondisi lingkungan hari ini telah cukup untuk memberi gambaran agar sektor publik harus secepatnya berbenah. Mental kuno harus segera diruntuhkan. Kemampuan aparatur harus senantiasa di upgrade untuk menciptakan ruang yang lebih proporsional demi menjawab tantangan perubahan. Tantangan dalam mencapai tujuan akselerasi daya saing.

Hingga pada saatnya, ketika negara lain sedang asik menari dan berdansa dengan beragam produk inovatifnya, negara kita tidak hanya sekedar jadi penonton saja, perlahan tergeletak mati ditengah senyap dan keheningan. Kini, inovasi harga mati bukan hanya sekedar jargon semata namun merupakan suatu ketentuan yang berlaku mutlak. Siapa yang tidak mampu berinovasi maka mereka akan ambruk, jatuh, hingga berujung kematian. (Fahri Ardiansyah Tamsir, S.Sos, M.A - INTAN)