ARTIKEL


Innovating Kampung: Inovasi Pembangunan Daerah Berbasis Kearifan Lokal

Jumat, 9 Februari 2018 | 04:26:03 WIB - Jumlah Dilihat: 101
 

Innovating Kampung: Inovasi Pembangunan Daerah Berbasis Kearifan Lokal

Modernisasi pembangunan adalah proses yang dinamis dan komprehensif, artinya, sebuah proses pembangunan yang tidak hanya mendasarkan performance indicator pada economic growth, melainkan pada social equity dengan equity guarantee sebagai performance indicatornya. Menilik Nawacita, Gerakan one institution one innovation dan one village one innovation mengisyaratkan inovasi pembangunan daerah seyogyanya dilakukan secara masif dan terintegrasi, baik pada level perkotaan maupun pedesaan. Kajian inovasi daerah dalam kerangka otonomi turut mendorong pemerintah daerah mengkampanyekan pembangunan Kampung yang selaras dengan program pemberdayaan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Melalui asas desentralisasi, pemerintah daerah wajib merevitalisasi Kampung menjadi entitas yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal.

Istilah Kampung memang identik dengan Desa atau Dusun, tetapi, dalam konteks kewilayahan (sesuai arti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia), Kampung dapat didefinisikan sebagai kelompok rumah yang merupakan bagian dari sebuah kota (biasanya dihuni orang berpenghasilan rendah); dan atau kesatuan administrasi terkecil yang menempati wilayah tertentu, terletak di bawah Kecamatan. Definisi ini memberikan gambaran bahwa pembangunan Kampung tidak hanya terbatas pada konteks pembangunan wilayah pedesaan, artinya, lokus pembangunan Kampung juga terdapat pada entitas masyarakat miskin di perkotaan.

Pembangunan Kampung inovatif bukanlah strategi baru, beberapa daerah telah berhasil mengembangkan potensi pariwisata berbasis kearifan lokal melalui pembangunan Kampung Bertema. Kota Malang, Semarang, dan Surabaya memiliki konsep wisata Kampung Warna-Warni yang mengusung transformasi Kampung budaya. Tak elak, tren Kampung inovatif telah menjelma sebagai objek wisata kekinian yang marak dikunjungi wisatawan. Produk inovasi ini justru menjadi sarana promosi local wisdom yang menyajikan keunikan budaya serta keindahan alam.

Inovasi Kampung wisata turut mengangkat topik pro-poor tourism sebagai poverty alleviation strategy. Konsep wisata pro-masyarakat miskin ini dinilai ampuh mengurai problema ekonomi yang mendera sebagian besar masyarakat Indonesia. Tak heran, pembangunan Kampung inovatif menjadi program unggulan di berbagai Kementerian, salah satunya Program Kampung Iklim (ProKlim) yang menjadi pilot project program revitalisasi Kampung Hijau yang dirintis oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). ProKlim lantas menjadi Kampung inovatif yang mengajarkan masyarakat tentang urgensi perubahan iklim global dan wawasan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Tentu, pembangunan Kampung inovatif membutuhkan upaya akselerasi inovasi tata kelola pemerintahan guna meningkatkan daya saing daerah. Dalam hal ini, Lembaga Administrasi Negara (LAN) memiliki peran penting sebagai lembaga think tank dan penggerak inovasi pemerintah daerah. Pendekatan Whole of Government juga diperlukan untuk agregasi peran pemerintah pusat dan daerah agar outcome Nawacita dan pembangunan berkelanjutan dapat diperuntukkan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.(Retnayu Prasetyanti – P2IPK LAN)