ARTIKEL


AWAL LANGKAH BELAJAR INOVASI

Jumat, 26 Januari 2018 | 11:27:05 WIB - Jumlah Dilihat: 54
 

Introduction

Baru saja saya terbangun dari tidur, inbox emailku tiba-tiba berbunyi. Tepat pada 18 Desember 2017 pagi hari. Pesannya menghampiriku, di tengah rasa kantuk yang masih mendera. Seketika itu, sejenak pula saya berfikir, mungkin saja pesan yang masuk itu hanya sekedar pesan biasa dari seseorang, atau mungkin spam yang terkadang berseliweran di inbox email. Benar saja, setelah melihat pengirim email tersebut, tak ada sesuatu yang spesial. Itu hanya pesan dari seorang teman lama. Cowok pula. hehe

Meskipun sekilas tampak tak ada yang menarik, namun melihat isi tulisan pada subjek emailnya, membuatku sedikit penasaran. Ada apa gerangan, ia menuliskan subjek "selamat bro" pada email yang ia kirimkan kepada saya. Hal yang sontak membuat saya tiba-tiba merasa deg-degan tak karuan. Mengurung diri saya, dalam rasa penasaran saat itu. Tanpa pikir panjang, email darinya pun saya buka dan kontennya ternyata adalah forward message dari hasil pengumunan CPNS di LAN. Sesuatu yang makin membuat aliran darah di tubuhku mengalir lebih cepat dari biasanya.

Satu per satu halaman pengumuman kelulusan pun ku telisik. Tanpa menyisahkan deretan daftar nama yang sejak tadi terus kupantau secara jelas. Hingga jariku sedikit lelah menahan scroll down yang sedari awal kulakukan. Akhirnya, setelah menghabiskan waktu beberapa menit, nama saya ternyata tertera dan tertulis jelas sebagai salah satu nama yang lolos menjadi CPNS LAN tahun anggaran 2018. Tepatnya pada posisi Analis Kebijakan kategori S-2 di Pusat Inovasi Tata Pemerintahan. Dan.... disitulah cerita saya bermula.

Bekerja di sektor publik merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Bukan dengan alasan karena ingin mengikuti jejak kedua orang tua saya yang juga PNS atau  disebabkan oleh faktor karena saya ingin mencari aman, ataupun sekedar ingin lebih banyak bersantai, layaknya persepsi kebanyakan orang yang terus bermunculan seolah tiada henti mengenai citra PNS atau ASN yang tentu kebenarannya masih sangat subjektif. Namun, yang terpenting bagi saya, menjadi seorang ASN berarti memutuskan suatu pilihan hidup untuk selalu siap berjuang, mengabdikan diri kepada tanah air republik tercinta.

Pertama kali menginjakkan kaki di LAN menjadi sesuatu hal yang tak pernah kuduga. Maklum saja, jauh-jauh hari sebelumnya, saya tidak pernah sedikit pun bermimpi untuk menjadi seorang PNS terkhusus bekerja di LAN Pusat. Mungkin karena lembaga ini masih terlalu sakral bagi saya yang hanya seorang anak dari kampung di seberang sana. Tentu jauh dari kehidupan Jakarta. Namun, itulah takdir, rejeki memang kerapkali tak bisa ditebak. Ternyata Tuhan punya banyak cara dan pilihan tersendiri bagi hamba-hambanya. Memberikan saya kesempatan untuk terus belajar, mengembangkan keilmuan yang dulu saya dapatkan dari perkuliahan dan tentu yang paling penting, saya masih diberi ruang untuk berkontribusi terhadap negara ini, yang kata kebanyakan orang adalah negara dengan sejuta masalah. Tapi justru disitulah letak tantangannya.

Hari Pertama di LAN, tepatnya tanggal 8 Januari 2018 seolah menjadi sejarah tak terlupakan bagi saya. Aula Prof. Dwiyanto pun ikut menjadi saksi, saya bersama kawan-kawan lain, berjumlah dua ratusan lebih itu diterima oleh keluarga besar Lembaga Administrasi Negara yang juga diawali oleh sambutan dari Kepala LAN, bapak Dr. Adi Suryanto, M.Si. Isi sambutan beliau sungguh menarik. Membuat saya semakin bergelora, mengingatkan akan tanggung jawab dan peranan penting seorang ASN yang begitu besar dan sangat berpengaruh terhadap kemajuan negara ini.

Dalam pertemuan perdana ini juga, aktivitas yang saya lakukan setelahnya adalah rekam absensi dan perkenalan kepada unit kerja masing-masing dibawah arahan bagian SDM. Moment ini pula yang menandai awal perkenalan saya pada keluarga besar di Pusat Inovasi Tata Pemerintahan yang di komandoi oleh Dr. Andi Taufik, M.Si sebagai Kepala Pusat Inovasi Tata Pemerintahan di bawah Kedeputian Inovasi Administrasi Negara.

Pembelajaran di DIAN dan INTAN

Baru seminggu saya bekerja, kesan terhadap proses pembelajaran di DIAN dan INTAN begitu mendalam. Menuangkan banyak kekaguman dan rasa penasaran tersendiri hingga memotivasi saya untuk terus kembali belajar, mengharuskan saya lebih giat bertarung dengan banyak buku tiap harinya, demi harapan agar kelak saya dapat berkarya di unit kerja ini.

Dalam tulisan ini, walaupun sifatnya mungkin masih subjektif karena masih didasarkan pada pendapat pribadi saya. Namun saya berupaya menggambarkan pembelajaran yang saya dapatkan ini secara nyata dari proses belajar selama dua minggu bekerja di LAN.

  1. Budaya kerja

Istilah budaya kerja pernah sangat familiar di telinga saya. Apalagi ketika saya masih berstatus mahasiswa, menggeluti dunia perkuliahan Administrasi Negara, tepatnya pada materi keorganisasian. Hari ini, berkenalan dengan budaya kerja di LAN ternyata memberikan gambaran nyata seperti apa budaya kerja sebenarnya. Gagasan mengenai budaya kerja yang semasa kuliah hanya saya dapatkan dalam kumpulan teori saja, akhirnya perlahan bisa saya dapatkan disini. Walaupun tentunya masih sebatas kulit luarnya saja. Namun setidaknya, itu telah cukup untuk memberikan pengetahuan baru bahwa ternyata teori dan realitas praktik bisa saja menjadi sangat sesuai dan berjalan beriringan atau justru sebaliknya. Intinya bahwa budaya kerja berakar pada kebiasaan, perilaku yang dilakukan oleh sumber daya manusia organisasi dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja organisasi.

Beberapa hal yang sangat menarik terkait dengan budaya kerja di LAN menurut saya salah satunya adalah memiliki budaya kerja yang tidak kaku dan dinamis. Mungkin layakanya seperti ungkapan Prof. Neo dalam bukunya yang berjudul Dynamic Govenrnace tentang pemerintahan yang dinamis. Sangat berbanding terbalik sebagaimana anggapan banyak orang yang melekatkan praktik birokrasi identik dengan rigidity. Namun di LAN, meskipun terdapat rentang kendali struktur, tampaknya itu tidak menjadi penghambat proses kerja akan berlangsung begitu kaku.

Dampaknya adalah setiap orang bisa lebih leluasa mengeksplorasi dan menyalurkan ide/gagasan dan kreativitas terhadap organisasi ini. Apalagi himbauan untuk panggilan terhadap sesama pegawai/rekan kerja disamaratakan dengan panggilan “Mas” dan “Mbak” tanpa terikat pada jabatan yang diembannya. Hal yang terdengar cukup sepele, namun dampaknya begitu besar dalam hal supporting proses kerja dalam organisasi.  

Budaya kerja lain, yang juga saya dapatkan, khususnya di DIAN adalah budaya diskusi yang tinggi. Dalam beberapa minggu ini, mungkin tak terhitung jumlahnya, saya dan teman-teman disuguhi aktivitas diskusi. Tak melulu soal kerjaan, namun segala konten yang dapat menunjang pengembangan keilmuan tak luput dari santapan kami untuk sekedar didiskusikan.

Di sini pula saya memahami mengapa diskusi menjadi aspek penting yang kerapkali dilakukan. Fungsinya, selain menjadi ruang berbagi pengetahuan, proses diskusi santai yang dilakukan dikatakan seringkali menjadi pemicu awal lahirnya ide/gagasan untuk tulisan penelitian dan gagasan inovasi. Apalagi buku bacaan disini sangat mudah untuk didapatkan, tak perlu berkeliling jauh. Hampir di setiap sudut ruang lantai 5, tempat keluarga besar DIAN, buku dengan mudah ditemui dan tentunya itu bukan barang haram untuk sekedar dibaca.

  1. Kluster Inovasi

Mengapa inovasi itu penting ? Itulah pertanyaan awal yang dilontarkan kepadaku sesaat sebelum mendapat tugas untuk mengidentifikasi kluster inovasi berdasarkan urusan pemerintahan dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah. Pertanyaan yang sangat berkesan. Membuat saya harus banyak mencari berbagai kesimpulan pengetahuan dari sejumlah proses diskusi terkait inovasi. Intinya bahwa dunia ini senantiasa selalu bergerak, setiap pergerakan itu menghasilkan kebutuhan baru, perilaku baru, lingkungan baru dan sebagainya. Oleh karena itu, siapa pun yang tidak ingin melakukan perubahan, mutlak akan tenggelam oleh proses, tergilas oleh zaman yang terus berjalan. Maka dari itu, inti aktivitas inovasi menekankan pada kebaharuan dan kemanfaatan, agar semua aspek tidak tenggelam oleh dunia yang senantiasa bergerak.

Memahami kluster inovasi yang telah dilakukan oleh DIAN sebelumnya, telah memberikan gambaran, daerah mana saja yang menjadi bagian dari fokus Laboratorium Inovasi. Untuk program inovasi sendiri, berdasarkan pengetahuan saya, setidaknya ada beberapa program yang menjadi fokus kerja di INTAN, seperti Laboratorium Inovasi, Workshop Champion Inovation, Innovation Impact Assesment, dan sebagainya.

Tugas yang saya dapatkan adalah memetakan ide/gagasan inovasi kedalam 33 urusan pemerintah daerah. Jadi setiap ide inovasi yang telah dilakukan hingga level unit kerja di daerah harus diidentifikasi dengan mengacu pada urusan pemda yang diatur dalam Undang-Undang pemerintahan daerah. Dari sini pula saya banyak belajar mengenai ide/gagasan inovasi yang dicanangkan oleh setiap daerah yang menjadi objek inovasi LAN. Terkadang ada ide inovasi yang berdampak luas terhadap masyarakat dan ada pula yang belum menuai hasil yang maksimal.

  1. Innovation Impact Assesment

Diantara beberapa tugas yang saya dapatkan dua minggu ini, tugas Innovation Impact Assesment merupakan tugas yang paling menantang dan sedikit menguras pikiran. Dalam tugas ini, masing-masing dari kami akan mencari sejumlah indicator dalam melakukan penilaian terhadap dampak inovasi. Mengharuskan saya, harus berselancar dengan banyak literatur setiap harinya. Mulai dari buku, jurnal maupun hasil report yang pernah melakukan aktivitas penelitian di bidang Innovation Impact Assesment.

Hasilnya pun tak sia-sia, sejumlah indicator telah saya dapatkan yang hasilnya diolah dari berbagai sumber. Tantangan selanjutnya adalah melakukan presentase temuan dalam bentuk power point dihadapan hampir seluruh pegawai INTAN. Saya pun memaparkan temuan yang saya dapatkan untuk selanjutnya dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan indikator yang tepat dan sesuai dengan konteks yang terjadi di lapangan/daerah. Pengalaman yang sangat luar biasa, bisa bercerita banyak, menjelaskan paparan poin demi poin indikator temuan saya. Sekali lagi, itulah budaya kerja di LAN, selalu mengagumkan bagi saya walaupun baru dua minggu saja. Budaya yang selalu mengedepankan eksplorasi gagasan tanpa mengenal apakah dia masih sebatas CPNS atau tidak. Tapi selama ia punya gagasan, punya ide, dan kemampuan berkontribusi, maka ia akan mendapatkan panggung untuk dapat berkarya.

Berkat tugas ini, saya juga mendapatkan pengetahuan baru bahwa salah satu kelemahan dari program inovasi yang kerapkali dilakukan di daerah adalah belum adanya tindakan lebih untuk mengukur sejauh mana dampak inovasi telah dirasakan oleh masyarakat. Ini tentunya bisa menjadi autokritik bagi pemerintah ataupun praktisi inovasi terkait sejumlah kelemahan tersebut. Selama ini, mungkin saja target perencanaan lebih banyak membahas mengenai kuantitas dari ide/gagasan inovasi, ketimbang bagaimana mengukur kualitas inovasi. Apakah sudah memiliki Impacts atau tidak.  

  1. Jumat yang Berwarna

Tak seperti jumat pada umumnya, hari jumat di LAN terkhusus di DIAN adalah hari yang sangat berwarna. Apalagi ketika harus diperbandingkan dengan tempat saya bekerja sebelumnya, dimana hari jumat tampak sama saja seperti hari-hari biasa. Namun disini jumat sungguh terasa berbeda. Mulai dari aktivitas peningkatan jasmani dan kemudian diikuti kegiatan DIAN sharing yang ditiap jumatnya memiliki topik dan metode pembahasan yang berbeda-beda. Hal yang membuat saya kerapkali berfikir, apakah saya benar-benar ada dalam dunia birokrasi atau tidak. Mengingat sebelumnya, banyak hal negatif yang mengurung persepsi saya mengenai birokrasi.

Jumat lalu, aktivitas pertama yang saya lakukan adalah senam pagi. Sangat menghibur. Semua orang tumpah ruah dalam kebersamaan, mengikuti gerak seorang pemandu yang sedang asik memamerkan keahlian senamnya. Setelah selesai, saya diarahkan untuk mengikuti dinamika kelompok. Dinamika kelompok ini bertujuan agar kita semua memahami arti penting bekerja dalam suatu kelompok.

Kegiatan menarik selanjutnya adalah DIAN Sharing. Pelaksanaan DIAN Sharing perdana ini juga menjadi moment yang tak terlupakan, karena saya untuk pertama kalinya bisa melihat dengan sangat dekat Deputi Inovasi Administrasi Negara Dr. Tri Widodo Wahyu Utomo, SH, MA yang akrab disapa Mas Tri. Karena sebelumnya, saya hanya bisa membaca dan menikmati karya buah pikiran beliau yang dituangkan dalam sebuah buku berjudul Inovasi Harga Mati. Suatu kebanggaan yang sangat besar bagi saya bisa bertemu dan berhadapan secara langsung.

Aktivitas jumat lalu, juga telah memberikan pengetahuan mengenai konsep LeaderPreneurship melalui diskusi yang dibawakan oleh tim Reform Leader Academy. LeaderPreneurship merupakan suatu konsep, tools, dan cara agar dapat meningkatkan daya saing daerah yang menekankan pada kemampuan kepemimpinan kepala daerah yang ujungnya akan berdampak pada daya saing secara nasional.

Konten LeaderPreneurship menekankan pada aspek kepemimpinan, dimana peran seorang pemimpin daerah kekinian bukan lagi hanya bertindak dalam fungsi tunggal sebagai pengelola internal pemerintahan saja, tetapi seorang pemimpin harus berani keluar melihat realitas lingkungan pemerintahan, melihat peluang potensi yang dimiliki daerahnya sehingga dapat dijadikannya sebagai pendorong dan penggerak kesejehateraan masyarakat. LeaderPreneur tentunya lebih berfokus pada upaya pencarian dan pemanfaatan peluang daripada pertimbangan sumber daya. Intinya bahwa pengetahuan LeaderPreneurship mencoba mengkombinasikan dua kekuatan penting guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi yakni kewirausahaan yang menghasilkan produk UMKM dan Kepemimpinan yang menghasilkan produk kebijakan.

Ending

Berada dua minggu saja di LAN, saya merasa semakin haus akan pengetahuan. Begitu banyak pencapaian yang ingin saya dapatkan kedepan. Bukan hal mudah tentunya. Tapi bukan juga merupakan suatu kemustahilan. Selama manusia ingin berusaha pasti Tuhan membuka jalan selebar-lebarnya. Apalagi semua itu untuk hal positif demi kontribusi kita terhadap kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia tercinta ini.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tuliskan tentang kemarin ini. Tapi saya kira perjalanan saya ini baru saja dimulai. Masih begitu panjang. Kedepan, mungkin akan lebih banyak cerita lagi, pengalaman dan pengetahuan yang menghampiri dan itu akan saya ceritakan dalam sebuah cerita perjalanan, belajar tentang Inovasi. (fahri)