ARTIKEL


H+5 CPNS LAN

Senin, 22 Januari 2018 | 11:57:16 WIB - Jumlah Dilihat: 329
 

Hari itu tanggal 8 Januari 2018. Hari pertama saya masuk kerja sebagai CPNS di Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (LAN RI). Saya sampai di kantor LAN RI pada pukul setengah enam pagi. Belum ada satu pun CPNS terlihat di pagi yang sangat penting itu. Saya diarahkan oleh petugas keamanan untuk duduk menunggu di ruang tamu gedung A. Karena tak terbiasa menunggu sambil melamun, saya putuskan untuk membaca artikel-artikel dari project-syndicate.org di telepon seluler. Setelah membaca selama beberapa saat, terlihat beberapa orang CPNS berdatangan, saya pun berhenti membaca dan mulai berinteraksi dengan kawan-kawan masa depan saya itu.

Pada saat arloji di tangan saya menunjukkan jam 07.30, panitia acara penyambutan mengarahkan kami untuk masuk ke ruangan besar di lantai 2 gedung A. Saya lumayan terkejut ketika tahu bahwa ruangan yang saya masuki ini bernama Auditorium Prof. Agus Dwiyanto, MPA. Saya langsung teringat, bahwa nama itu tidak asing bagi saya. Sejak saya kuliah S1 di Universitas Mulawarman, saya sudah sering membaca buku karya beliau yang banyak membahas tentang reformasi administrasi publik. Kemudian, ketika di masa awal kuliah S2 di Universitas Nasional, tepatnya tahun 2012, saya mendapat kesempatan bertemu langsung dengan Prof. Agus Dwiyanto. Kala itu Ayah saya dan Prof. Agus sama-sama mengikuti Diklat PIM Tingkat I Angkatan XXIV di LAN Pejompongan. Saya kebetulan diajak Ayah untuk hadir di acara penutupan Diklat itu. Ketika acara penutupan selesai, Ayah memperkenalkan saya kepada Prof. Agus. Saya senang sekali. Saya terus terang terkesan dengan pembawaan beliau yang ramah dan egaliter.

Komitmen dan dedikasi mendiang Prof. Agus Dwiyanto terhadap pengembangan Ilmu Administrasi Publik di Indonesia sungguh tak bisa diragukan, ditambah dengan karakternya yang egaliter dan menjunjung tinggi akal sehat itu, membuat saya mengangguk-angguk setuju dengan langkah LAN RI mengabadikan nama besarnya sebagai nama auditorium yang baru kali pertama saya masuki ini.

Kepala LAN RI, Bapak Dr. Adi Suryanto, M.Si dalam sambutannya pada hari pertama saya masuk kerja itu, menyatakan bahwa penerimaan CPNS tahun 2017 merupakan salah satu penerimaan CPNS terbesar sepanjang sejarah LAN. Tepatnya ada 242 CPNS yang diterima LAN di tahun 2017. Pak Adi juga berkelakar bahwa beliau dulu tidak pernah punya cita-cita untuk menjadi Kepala LAN, tapi ajaibnya beliau bisa menjadi Kepala LAN. Hal itu tentu mengundang tawa sekaligus optimisme dari kami semua CPNS di ruangan itu. Sebab hal itu menunjukkan bahwa LAN RI ini merupakan kawah candradimuka yang bisa mendidik anak-anak muda menjadi pemimpin besar di masa depan, siapapun dia, dari mana pun asalnya.

Kemudian, tibalah saatnya Deputi Inovasi Administrasi Negara, Dr. Tri Widodo Wahyu Utomo, S.H, M.A maju memberi pengarahan kepada CPNS. Beliau menyampaikan, “Ingatlah 8118.” Maksudnya tentu kami (para CPNS) mesti mengingat dengan baik tanggal 8 Januari 2018 sebagai hari penting dalam hidup ini. Di akhir pengarahan itu beliau memberi kuis pada kami. “Coba, siapa yang bisa sebutkan alamat kantor ini dengan lengkap?” Beberapa CPNS pun mengangkat tangan dan berusaha menjawab. Dari satu CPNS ke CPNS lain terus saja ada perubahan detail alamat hingga akhirnya Dr. Tri Widodo menyatakan jawaban CPNS terakhir sudah benar dan lengkap. Kuis itu dan jawabannya membuat saya tahu secara detail bahwa kantor LAN RI terletak di Jalan Veteran No. 10 RT. 002, RW. 003 Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia, kode pos: 10110. Pertanyaan dari Dr. Tri Widodo itu memang nampak sangat sederhana, namun saya mencoba untuk mengambil makna di balik pertanyaan itu: kita mesti detail dan tahu benar dengan apa yang kita kerjakan, di mana kita berada, dan mengapa kita ada di sini.

Selepas acara penyambutan selesai, kami dipanggil bergantian untuk merekam sidik jari untuk presensi kehadiran kerja. Saya termasuk rombongan terakhir yang dipanggil untuk merekam sidik jari. Kemudian, kami diarahkan ke lantai 5 untuk masuk ke ruang kerja. Kepala Pusat Inovasi Kelembagaan dan Sumber Daya Aparatur (PIKSA), Dr. Muhammad Aswad, M.Si menyambut kami bersama Kepala Bagian Administrasi Dra. Niken Andonrani, MAP.

Di ruangan yang masih terasa asing itu, kami bergantian memperkenalkan diri, saya langsung menghapal dengan cepat 7 nama teman baru saya sesama CPNS di ruangan itu: Niken, Reza, Metha, Hasna, Madya, Ikbal dan Ana. Dalam perkenalan itu, Dr. Aswad memberi kesempatan pada Peneliti Madya, Agustinus Sulistyo, SE, M.Si untuk menjabarkan tugas pokok dan fungsi PIKSA. Kami diarahkan oleh Pak Agustinus untuk mempelajari peraturan perundang-undangan terkait kementerian negara dan OPD, hal itu untuk menunjang pemahaman terhadap kelembagaan. Untuk menunjang pemahaman tentang sumber daya aparatur, kami diarahkan untuk membaca UU ASN dan PP Manajemen PNS. Kami juga diwajibkan untuk membaca semua peraturan yang terkait dengan LAN. Hal itu tentu saja mencerahkan, setidaknya saya sudah tahu referensi yang mesti saya baca agar bisa cepat beradaptasi dengan tempat kerja yang baru ini.

Lalu Ibu Niken memberi arahan bahwa kami harus berpakaian rapi, masuk kerja tepat waktu, dan mengumumkan satu hal yang teramat penting: bahwa PIKSA menyiapkan makan siang gratis setiap siang dari hari Senin hingga Jumat. Saya terus terang merasa bersyukur sekali. Saya jadinya tak perlu lagi repot untuk memikirkan di mana harus makan siang. Para pebisnis di Amerika sering menggunakan istilah “tidak ada makan siang yang gratis di dunia ini”, namun di tempat kerja saya yang baru ini, istilah populer dari Amerika itu tidak terbukti. Mulai hari ini saya percaya pada istilah “ada makan siang yang gratis di dunia ini”, kalau ada yang tidak percaya, maka datang saja ke PIKSA pada jam makan siang. Pak Aswad menutup pengarahan siang itu dengan menyebut, “Ada 3 M yang sangat penting dalam bekerja, M yang pertama adalah membership. Membership itu ialah tentang bagaimana seseorang dapat diterima sebagai anggota suatu kelompok. Ia harus mampu menyesuaikan diri dengan baik.” Lalu kawan saya Ikbal bertanya, “M yang kedua dan ketiga apa, Pak?” Pak Aswad pun menjawab, “Nah, M yang kedua dan ketiga itu rahasia, nanti kalau sudah lama kerja di sini, baru saya kasih tahu.”

Hari ke-2, 3, dan 4 saya menyibukkan diri dengan membaca peraturan perundang-undangan sambil terus mengamati cara bekerja dari para pegawai yang lebih senior. Saya juga mulai terbiasa dengan tradisi senyum, salam, sapa di ruangan saya di pagi hari. Setiap orang yang datang harus menjabat tangan semua orang yang ada lebih duluan di ruangan. Jika ada yang terlambat, maka konsekuensinya ia akan bersalaman dengan semua yang ada di ruangan itu sambil tersipu malu.

Hari ke-5, saya mengikuti senam pagi di halaman LAN. Setelah itu kami diarahkan untuk mengikuti dinamika kelompok di gedung A, saya masuk kelompok 2 dan berjalan ke ruang kelas B. Kami dipandu Pak Nur Salman dan Pak Mulyanto untuk membentuk lingkaran kecil dan berkenalan dengan cepat sembari ditugaskan untuk merumuskan yel-yel yang tepat untuk kelas kami yang bernama Meteor. Sebelum selesai membuat yel-yel, kami yang bekerja di bawah Deputi Inovasi Administrasi Negara dipanggil mendadak ke lantai 5 untuk mengikuti diskusi. Saya masuk ke ruangan itu masih dengan kaos The Beatles dan celana olahraga. Penampilan saya semacam orang salah kostum di tengah orang-orang yang berpakaian batik dan rapi. Di depan ruangan itu Ibu Ajriani dkk memaparkan soal Leaderpreneurship dan UMKM. Saya terkesan, betapa bagus konsep itu jika bisa diterapkan di republik ini.

Sambil memperhatikan tanya jawab antara peserta dengan presenter diskusi siang itu, saya sempat berkenalan dengan CPNS yang duduk tepat di sebelah kanan saya, namanya Rori, ia berasal dari Batam dan menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Brawijaya. Diskusi pun berakhir sebelum adzan Jumat berkumandang. Kami diwajibkan untuk kembali ke ruangan itu jam 14.30 karena Deputi Inovasi Administrasi Negara akan memberikan pengarahan.

Jam 14.30, kami masuk kembali ke ruangan besar di lantai 5 itu. Saya kini sudah menggunakan batik Pekalongan warna biru. Deputi Inovasi Administrasi Negara, Dr. Tri Widodo menjelaskan bahwa tradisi egaliter di DIAN mengharuskan kita memanggil “Mas” atau “Mbak” kepada siapapun di Kedeputian Inovasi Administrasi Negara (DIAN), meskipun orang itu seharusnya layak dipanggil “Om”, “Tante”, atau “Opung”.

Mas Tri berulang kali menyebut DIAN ketika memberi pengarahan. Saya jadi teringat pada Sutan Takdir Alisjahbana, pendiri kampus Universitas Nasional, tempat saya menempuh kuliah S2. Sutan Takdir Alisjahbana pernah menulis sebuah novel yang berjudul “Dian yang Tak Kunjung Padam”. Saya heran, kenapa kok kampus S2 saya dan tempat bekerja saya ini bisa terhubung dengan satu kata: DIAN? Ditambah lagi dengan informasi dari Mas Tri bahwa Kedeputian Inovasi Administrasi Negara ini dibentuk di era kepemimpinan Kepala LAN RI Prof. Agus Dwiyanto, MPA.

Saat mengakhiri pengarahan sore itu, Mas Tri menyampaikan, “Kalau jadi abdi negara itu kalian tidak boleh hanya hadir fisik saja. Kalian semua harus hadir penuh dan sadar utuh. Kaffah!” Saya terkesan dengan kata-kata terakhir itu: hadir penuh, sadar utuh, dan kaffah (totalitas). Mungkin saya tidak bisa menjelaskan bagaimana suratan takdir telah menghubungkan kampus Unas tempat saya belajar dengan Kedeputian Inovasi Administrasi Negara ini. Tapi saya percaya, seperti kata Mas Tri, saya harus belajar untuk mengabdi dengan kehadiran penuh, kesadaran utuh, dan kaffah (totalitas). Sebagai penghormatan saya terhadap Sutan Takdir Alisjahbana, Prof. Agus Dwiyanto, MPA dan DIAN tempat kerja saya yang baru ini, saya berjanji akan mengabdikan diri seperti dian (lampu kecil dengan bahan bakar minyak) yang tak kunjung padam. (Azwar Aswin)