ARTIKEL


Membangun Kemandirian Energi dan Mental Warga : Desa Kamanggih, Sumba Timur, NTT

Selasa, 26 September 2017 | 09:32:14 WIB - Jumlah Dilihat: 126
 

Desa Kamanggih merupakan sebuah desa yang terletak pada kabupaten Sumba Timur yang merupakan salah satu dari empat kabupaten tertinggal pada provinsi Nusa Tenggara Timur. Desa Kamanggih sendiri merupakan sebuah desa yang letaknya cukup terpencil dan jauh dari ibukota kabupaten Sumba Timur di Waingapu. Namun, sejak tahun 2011, sebanyak 2000 penduduknya telah menikmati aliran listrik tanpa dibayangi oleh pemadaman bergilir. Bagaimana bisa?  

Perjuangan warga desa Kamanggih dalam membangun kemandirian energi bukanlah upaya yang mudah. Pada awalnya Kamanggih merupakan sebuah desa yang tingkat perekonomian warganya cukup rendah. Menurut penuturan tokoh pemuda setempat, Umbu Hinggu Panjanji, pada tahun 1999 baru satu orang di desanya yang memiliki sepeda motor. Sepeda motor merupakan sebuah kemewahan pada saat itu. Salah satu produk pertanian andalan desa yakni Kemiri harganya jatuh menjadi Rp. 1000 perkilogram. Banyak warga yang menjual hewan ternak kepada pedagang di kota dengan harga yang cukup murah.

Selain itu, kondisi kesehatan warga desa cukup buruk karena tidak ada pusat pelayanan kesehatan. Air bersih sangat sulit didapat karena terletak di lembah yang jauh dari desa. Penerangan listrik belum tersedia, sehingga penduduk masih menggunakan lampu minyak tanah yang bahan bakarnya cukup susah didapatkan. Kondisi tersebut berujung pada buruknya pendidikan anak-anak, karena tidak ada guru yang bersedia hidup di desa yang terpencil dan serba kekurangan.

Beberapa upaya telah dilakukan guna mengatasi krisis energi di Desa Kamanggih. Pemerintah bersama donatur internasional (JICA) pernah memberikan bantuan pompa air dan panel tenaga surya pada tahun 1999. Program hibah ini dilakukan dengan rekomendasi perlu dibuat sebuah koperasi guna mengelola operasional instalasi tersebut. Namun semua bantuan rusak dan terbengkalai dalam waktu singkat. Hal ini dikarenakan tidak adanya pelatihan kepada warga dan pengurus Koperasi untuk mengoperasikan dan merawat instalasi air dan panel surya. 

Perubahan sesungguhnya baru dimulai ketika sebuah LSM bernama Hivos bersama Ibeka datang ke desa Kamanggih. Mereka membantu warga desa Kamanggih membangun Pembangkit Tenaga Mikro Hidro (PLMTH) pada salah satu sumber mata air di hutan dekat desa pada tahun 2011. Masyarakat bergotong-royong dalam membangun PLMTH yang diberi nama Mbaku Hau tersebut hingga selesai. Kini PLTMH Mbaku Hau telah menghasilkan listrik sebesar 37 kilowatt (kWh) atau melebihi kebutuhan listrik warga desa Kamanggih yang hanya sebesar 28 kilowatt. Koperasi yang telah didirikan sebelumnya berfungsi untuk menyalurkan energi listrik kepada warga.  

Belajar dari pengalaman sebelumnya, koperasi Desa Sukamanggih lalu menjalin kerjasama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada tahun 2013. Koperasi tidak lagi mengurusi pemeliharaan teknis PLTMH Mbaku Hau namun sepenuhnya diserahkan kepada PLN. Koperasi tidak lagi menjual listrik secara langsung kepada masyarakat, namun menjual kepada PLN sebesar Rp. 475/ kWh. Melalui skema penjualan tenaga listrik PLTMH tersebut, warga hanya membayar Rp. 20.000/bulan kepada PLN atau jauh di bawah harga yang ditentukan pemerintah. Namun, koperasi tetap menghasilkan keuntungan bersih sebesar tiga hingga empat juta perbulan. Keuntungan kedua yang didapatkan adalah Koperasi tidak perlu pusing memikirkan biaya operasional dan teknis perawatan. PLN membayar seorang teknisi yang memelihara PLTMH tiap hari. Teknisi tersebut berasal dari anggota koperasi yang dilatih secara khusus.

Keuntungan bulanan tersebut tidak lantas mengendap pada kas koperasi namun diputar sebagai modal dalam membangun prasarana air bersih. Kemudian air bersih yang disalurkan kepada warga desa dikenai tarif murah yang nantinya akan menambah pendapatan koperasi. Selanjutnya koperasi kembali mengajak warga membangun instalasi pengolahan biogas untuk keperluan memasak. Melalui pembangunan instalasi tersebut, kini terdapat 120 kepala keluarga yang  menggunakan biogas di desa Kamanggih. Secara perlahan, mereka mulai mengurangi penggunaan kayu bakar yang menjadi penyebab tingginya angka penderita penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) di sana.

Pada tahun 2013, sebuah BUMN minyak dan gas memberikan bantuan kembali pada warga berupa pembangkit listrik tenaga angin. Terdapat sekitar 100 kincir angin yang masing-masing menghasilkan listrik sebesar 500 watt yang dipasang di dekat Desa Kamanggih. Sehingga apabila ditambahkan dari daya yang dihasilkan oleh PLTMH, terdapat sekitar 87 kWh listrik yang telah dihasilkan oleh Desa Kamanggih. Dengan kekayaan energi sebesar 87 kWh, Desa Kamanggih tidak hanya mandiri energi namun juga mampu memenuhi kebutuhan listrik desa-desa tetangganya.

Melalui kemandirian energi listrik di Desa Kamanggih, kini taraf perekonomian masyarakat semakin membaik. Meskipun tidak didapat data resminya, namun apabila dilihat secara kasat mata telah terlihat. Produksi pertanian dan perkebunan warga menjadi meningkat, dikarenakan warga tidak disibukkan dengan mencari air di lembah yang jauh karena telah dibangun instalasi penyaluran air. Ibu-ibu menjadi lebih produktif karena mereka bisa menenun di malam hari dengan lampu listrik. Kemudahan mendapatkan air bersih turut meningkatkan kondisi kesehatan warga. Bahkan pada tahun 2014, telah berdiri Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang pertama kalinya di desa Kamanggih.      

Praktik pengelolaan listrik pada desa Kamanggih dapat dikatakan cukup inovatif. Pertama, mereka mampu mengelola pembangkit tenaga listrik yang dibangun secara swadaya dengan lebih profesional.  Mereka tidak hanya berdiam diri mendapatkan bantuan dari pihak lain tanpa memperhatikan aspek perawatan instalasi. Melalui kerjasama dengan PLN, perawatan instalasi dapat dilakukan secara rutin melalui pelatihan seorang anggota koperasi. Kedua, pengelolaan pembangkit tenaga listrik dilakukan secara ekonomis. Hal tersebut berarti penyaluran listrik yang dihasilkan PLTMH Mbaku Hau tidak sepenuhnya digratiskan, namun dikenakan tarif sebagai modal pembangunan desa ke depannya. Keuntungan yang dihasilkan, dapat menguatkan finansial koperasi sekaligus menciptakan peluang usaha baru dalam meningkatkan perekonomian warga. Ketiga, adalah penciptaan mentalitas warga. Pembangunan PLTMH, instalasi air dan biogas secara bergotong-royong secara tidak langsung mencetak mental pekerja keras dan menumbuhkan partisipasi warga. Selain itu, dengan penetapan tarif listrik dan air bersih, masyarakat dididik untuk bertanggungjawab terhadap PLTMH dan instalasi air yang telah dibangun. (NAS - INTAN)

 

Sumber:

Kompas. 18 September 2017. Desa Kamanggih Melawan Gulita. 

Kemendes PDTT. 2016. Menuju Desa Mandiri.