ARTIKEL


Dokter Gamal Albinsaid, Memanusiakan Manusia Lewat Sampah

Kamis, 31 Agustus 2017 | 09:21:22 WIB - Jumlah Dilihat: 100
 

Dokter Gamal Albinsaid, Memanusiakan Manusia Lewat Sampah 

Sampah, Konotasi yang begitu buruk, menggambarkan sesuatu yang kotor, buangan, atau hal-hal lain yang patut dihindari oleh masyarakat. Bagi GAMAL ALBINSAID,  dokter asal Malang Jawa Timur sampah adalah suatu benda yang menghantarkan dirinya berhasil meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014 yang diterimanya langsung di Istana Buckingham dan diserahkan langsung oleh Pangeran Charles. Penghargaan yang digelar oleh Unilever dan Universitas Cambridge ini, merupakan satu bentuk apresiasi  terhadap entrepreneur muda yang peduli di bidang sumberdaya berkelanjutan.

Penghargaan dengan hasil pengembangan Klinik Asuransi Sampah. Gamal adalah  dokter muda kelahiran Malang, 8 September 1989, mengembangkan satu sistem di mana masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan dengan cara menukarkan sampah (kering yang dapat didaur ulang).

Pangeran Charles (Putra Mahkota Kerajaan Inggris) saat penyerahan pengahargaan memuji hasil pemikiran Gamal, “Pemimpin muda ini mengembangkan gagasan yang benar-benar inovatif, menangani dua masalah pada saat yang bersamaan; manajemen dan daur ulang sampah serta asuransi kesehatan bagi masyarakat kurang mampu.”

 Klinik Asuransi Sampah di kota Malang ini, awalnya dikembangkan Gamal pada 2010. “Saya dan teman-teman kampusnya, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya membuat proyek asuransi sampah ini karena di Indonesia masih banyak orang yang tidak bisa mendapat akses layanan kesehatan.”

Sebuah peristiwa yang benar-benar mendorongnya untuk mendirikan program ini, adalah kasus yang terjadi di Jakarta tahun 2005. Saat itu, seorang balita tiga tahun bernama Khaerunissa meninggal karena ayahnya yang seorang pemulung tak mampu membawanya berobat.

Pria berstatus dokter magang Rumah Sakit Saiful Anwar di Malang ini, kemudian bergerak bersama Indonesia Medika yang ia dirikan. Ia mengajak kader posyandu, PKK, dan warga untuk bergabung dalam program Klinik Asuransi Sampah. Warga, diajak mengumpulkan sampah dan menyetorkan sampah senilai Rp 10 ribu per bulan untuk mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan. Target utamanya, adalah warga kurang mampu yang sebelumnya susah mengakses layanan kesehatan.

Sampah yang berhasil dikumpullkan kemudian diolah, sampah organik menjadi pupuk sementara inorganik dijual pada pengepul. Uang yang terkumpul, masuk dalam kas Dana Sehat yang digunakan untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh, meliputi tindakan promotif (meningkatkan kesehatan, pencegahan, pengobatan hingga rehabilitasi). Meski sempat tutup setelah berjalan enam bulan, lima klinik dengan sistem asuransi sampah ini akhirnya berjalan stabil sejak dibuka kembali pada Maret 2013, bahkan berhasil mengajak 88 relawan, 15 dokter dan 12 perawat untuk bergabung.

Gamal yang juga pendiri dan CEO dari Indonesia Medika ini menyebutkan, sejak kecil ia memang telah bercita-cita terjun ke bidang kedokteran. “Sejak kecil kalau ditanya cita-citanya mau jadi apa, saya jawab dokter spesialis anak, karena suka sama anak kecil,” katanya.

Meski telah menerima penghargaan bergengsi, Gamal menyebut ia tak ingin terlena dengan titel ini. “Bagi saya penghargaan itu tidak penting, bahkan berbahaya, bisa merusak keikhlasan,” ujarnya.

Ia meyakini, bila seseorang ingin menjalani hidup dengan optimal, maka ia perlu bekerja dalam bidang yang memenuhi tiga hal, yakni pleasure, strength dan meaning. “Artinya, cari pekerjaan yang kita kuasai, sukai, dan bermakna,” ujarnya. Ketiga hal ini, menurutnya, telah ia dapatkan lewat Klinik Asuransi Sampah.

Inovasi yang memungkinkan direplikasi di daerah lain.  Kemungkinan keberhasilan bila inovasi ini direplikasi di tempat/daerah lain di Indonesia diatas 95%, tidak ada hal yang menjadi penghambat/barrier dari pihak manapun. Oleh karena itu wajar jika hasil inovasi Dr. Gamal dari Malang ini mendapatkan penghargaan tingkat dunia.

Semoga dengan keberhasilan ini dapat memacu entrepreneur muda Indonesia  lainnya semangat berinovasi. (handayani-P2IPK)