ARTIKEL


BPOM: PELAYANAN TERPADU SATU PINTU EKSPOR OBAT DAN MAKANAN (OBAT, OBAT TRADISIONAL, KOSMETIKA, SUPLEMEN KESEHATAN DAN MAKANAN) – PTSP SKE

Selasa, 1 Agustus 2017 | 10:51:45 WIB - Jumlah Dilihat: 34
 

BPOM: PELAYANAN TERPADU SATU PINTU EKSPOR OBAT DAN MAKANAN (OBAT, OBAT TRADISIONAL, KOSMETIKA, SUPLEMEN KESEHATAN DAN MAKANAN) – PTSP SKE

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melalui proyek perubahan “Pelayanan Terpadu Satu Pintu Ekspor Obat dan Makanan-PTSP SKE yang dicetuskan oleh Sekretaris Utama BPOM, Dra. Reri Indriyani, Apt., M.Si pada Diklatpim Tingkat I di Lembaga Administrasi Negara Tahun 2016 memiliki kegiatan utama: 1) Merubah pola pikIr dan budaya kerja SDA-ASN BPOM, 2) Melakukan Debirokratisasi Kebijakan Ekspor Obat dan Makanan yang saat ini tidak kondusif, 3) Memanfaatkan TI (web based) dalam pelayanan sertifikasi (e-ekspor) dan informasi konsultasi ekspor (EDC), 4) Menyiapkan Sarana dan Prasarana untuk mendukung pelayanan terpadu satu atap (PTSP), 5)  Mengintegrasikan in-house system INSW untuk memperkuat koordinasi Was OM-INSW berhasil masuk dalam 10 (sepuluh) besar Lomba Pemimpin Perubahan yang diselenggarakan oleh Lembaga AdministrasiNegara. Berdasarkan hasil validasi dilakukan pada tanggal 6 Juli 2017 oleh Tim dari Lembaga Administrasi Negara dapat dilihat bahwa proyek perubahan ini memiliki unsur KEBAHARUAN, yang dilihat dari terbangunya pelayanan publik satu atap, dilengkapi ECD, dan e-payment yang terintegrasi dengan system penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Kementerian Keuangan yang on-line dengan 70 bank di Indonesia. Disamping itu e-SKE ini mampu mengurangi waktu pelayanan yang semula 20 hari kerja menjadi 3 hari kerja. E-SKE mampu merubah budaya kerja SDA BPOM di semua level (mengintegrasikan 4 Eselon I: 3 Kedeputian dan Sekretariat Utama. Dari unsur KEMANFAATAN, PP ini bermanfaat bagi stakeholder terkait (mempercepat pelayanan, mempermudah perusahaan untuk mendapatkan SKE, memungkinkan memperbaruhi SKE jika terdapat perubahan persyaratan dari negara tujuan ekspor). Manfaat besar dirasakan oleh perusahaan yang akan mengurus Surat Ekspor , biaya pengurusan SKE, dan waktu pengurusan sangat dirasakan. Sehingga perusahaan tidak perlu lagi meminta jasa perusahaan lain untuk mengurus ijin ini. Melalui on-line dan tracking yang dapat dipantau dari manapun (on-line) memberikan informasi real time bagi perusahaan/stakeholders. Proyek Perubahan ini juga MEMBERI SOLUSI setelah dilaunchingnya PTSP (Pelayanan Terpadu Satu Atap) e-SKE pada bulan Maret 2017, proyek perubahan ini memberikan solusi bagi pemerintah meningkatkan kualitas dan kecepatan pelayanan public, khususnya perijinan ekspor. Melalui e-SKE maka harapan bahwa Indeks Reformasi Birokrasi Badan POM, peningkatan Ekspor Obat dan Makanan produk Indinesia, dan peningkatan Indeks Ease of Doing Business (EoDB) Indonesia meningkat. Peringkat Indonesia membaik dari waktu ke waktu. Demikian pula SUSTAINABILITY dari proyek perubahan ini, dengan beroperasinya PTSP Ekspor Obat dan Makanan yang dilengkapi e-SKE, terintegrasi dengan e-payment, dan ECD di Badan POM maka sustainability dari pelayanan SKE dapat terjamin secara baik.

Selain itu Sustainability dari SKE ini juga dijamin dengan telah diterbitkannya Perka Badan POM Nomor 15/2016 tentang Perubahan Atas Perka Badan POM Nomor 39/2013 tentang Standar Pelayanan Publik di lingkungan Badan POM. Dari sudut REPLICABILITY, proyek perubahan ini memungkinkan direplikasi untuk instansi lain dengan sangat mudah, demikian pula Badan POM akan memberikan dukungan bagi instansi yang akan mereplikasi inovasi ini.

Sementara KOMPATIBILITAS proyek perubahan inidapat mendorong, penerimaan SDA ASN Badan POM sangat tinggi, dengan dilakukannya jadwal bergilir antar kedeputian, dan berubahnya budaya kerja di lingkungan Badan POM dan testimoni dengan petugas saat validasi bahwa mereka cukup puas dan nyaman dengan fasilitas yang ada menunjukkan bahwa PP ini memiliki kompabilitas tinggi. (Handayani-P2IPK)