LAB KOTA SOLOK


SOLOK LUMBUNG INOVASI

Jumat, 9 Juni 2017 | 04:40:26 WIB - Jumlah Dilihat: 164
 

Siapa yang tidak mengenal Sumatera Barat. Jauh sebelum jaman kemerdekaan, dan bahkan di tahun 1928 boleh dikatakan Sumatera Barat sudah menjadi icon bagi Republic Indonesia.

Dimulai dari lahirnya tokoh pejuang kemerdekaan bangsa, Tuanku Imam Bojol, dilanjutkan dengan Bapak Proklamator kita bersama wakilnya yaitu  Muh. Hatta, H Agus Salim, hingga Gamawan Fauzi dan tokoh-tokoh nasional lainnya yang berasal dari Suamtera Barat. Lalu sejarah dalam pencarian identitas kebangsaan. Apa sesungguhnya Indonesia itu, apa sesungguhnya yang menunjukkan bahwa kita bersaudara, apa pula yang menunjukan bahwa kita bersatu, ternyata identitas tersebut ditemukan dalam budaya melayu  yaitu Bahasa Indonesia.

Budaya Melayu di Tanah Sumatera Barat sungguh memberikan sumbangsijh yang luar biasa bagi sejarah tegaknya republic hingga saat ini.

Berangkat dari semangat sejarah masa lalu dan dengan dilandasi niat untuk turut berkontribusi melalui nikmat yang telah dimiliki, nikmat ilmu pengetahuan, nikmat sehat, nikmat jabatan, nikmat kesempatan dan seluruh nikmat termasuk pula nikmat sumber daya alam yang dimiliki yang harus dipertanggungjawabkan di hari akhir zaman, Kota Solok selama 3 hari yang dimulai dari tanggal 17 – 19 Mei 2017 berkomitmen melaksanakan Akselerasi Pengembangan Inovasi Administrasi Negara melalui kegiatan Laboratorium Inovasi Administrasi Negara.

Kegiatan dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri atas 25 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berikut 13 Kelurahan, dan 4 Puskesmas. Selain itu mengingat Balitbang Kota Solok merupakan organisasi termuda yang lahir di tahun 2017 di Pemko Solok, acara dihadiri pula oleh unsur Muspida Kota Solok dan Pelaksana Fungsi Kelitbangan Kabupaten/ Kota se-Sumatera Barat, serta Kabupaten Merangin (sebagai peninjau).

Acara diawali dengan Pembacaan Lapran Panitia Pelaksanaan Kegiatan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Ir. Raflis, dilanjutkan sambutan oleh Deputi Inovasi LAN, Dr. Tri Widodo Wahyu Utomo, dalam pidatonya beliau menekankan “tantangan kita adalah bagaimana kita mewarnai Indonesia untuk masa-masa yang akan datang, apa yang harus kita lakukan untuk memastikan bahwa Sumatera Barat akan terus menjadi salah satu pilar tegaknya NKRI ini.” Adapun yang pepatah yang disampaikan “jika gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama, pejabat mati, pensiun, bergeser, mutasi, dan lain sebagainya apa yang akan ditinggalkan”.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan sambutan sekaligus membuka acara oleh Walikota Solok Zul Elfian, SH, MM, dalam pidatonya beliau menekankan “jangan bangga pada potensi kita saja tapi lupa menempatkannya, jika kita tidak berinovasi maka kita akan ketinggalan”.

Acara dilanjutkan dengan pertukaran cindera mata berupa pelakat dan buku dengan judul Inovasi Harga Mati karya Tri Widodo Wahyu Utomo.

Memasuki sesi materi, peserta dibekali dengan dua materi: drum up dan diagnose. Materi Drum up disampaikan oleh Dr. Andi Taufik, M.Si. dalam materi ini peserta dibangkitkan gairahnya untuk mau berinovasi. Yang kemudian dilanjutkan dengan design yang disampaikan oleh tim yang terdiri atas Dr. Andi Taufik, M.Si selaku Kapus Pusat Inovasi Tata Pemerintahan, Selfy Andreany,SAB,MAB dan Antonius Galih Prasetyo, SIP,MA, selaku Analis Kebijakan Pertama.

HIngga pukul 16.00 WIB peserta dikembalikan ke OPD masing-masing dengan tujuan untuk mendiskusikan hasil ide/ gagasan inovasi yang di usulkan bersama unit kerja masing-masing hingga hari kedua keesokan harinya pukul 10.00 WIB.

Setelah diskusi dengan OPD/ unit kerja, dilanjutkan couching clinic atau perkonsultasian. Kelompok konsultasi terbagi dalam tiga kelompok dengan satu orang couching LAN dan dua orang pendampingan tim inovasi daerah. Dari perkonsultasian telah menghasilkan 124 ide/gagasan inovasi. Ide tersebut sudah melebihi ekspektasi yang ditargetkan oleh Walikota Solok yang hanya 100 ide/ gagaasan inovasi.

Memasuki hari ketiga, acara dilanjutkan dengan penggalian model. Adapun model pemodelan yang diangkat adalah Inovasi simpan pinjam yang bersifat syari’ah Islam atau disebut dengan Baitul Ma’al Ta’anwil disingkat dengan BMT.

Inovasi ini merupakan program pengembangan ekonomi kerakyatan. Dimana melalui BMT masyarakat yang semula sedih dikarenakan tidak punya dana untuk usaha, dengan datang ke BMT masyarakat kini memiliki modal usaha dan dapat mengembangkan usahanya.

Solok, Lumbung Inovasi (Selfy_INTAN)

 
 
 

Berita Lainnya