Detail Inovasi


Bridging System BPJS Kesehatan

Waktu Dibuat: Senin, 22 Januari 2018 | 10:18:43 WIB - Dilihat: 40, Diunduh: 15 Unduh
 

Produk Inovasi : Bridging System BPJS Kesehatan

Jenis Inovasi: Hubungan

Kelompok Inovator : BUMN / BUMD

Nama Instansi : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Unit Instansi : Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan

Penggagas :

Kontak Person : BPJS Kesehatan Kantor Pusat, JL Letjen Suprapto Cempaka Putih PO BOX 1391 JKT 10510 021-4212938 (Hunting)

Sumber : - https://bpjs-kesehatan.go.id/bpjs/ - Buku Saku FAQ BPJS Kesehatan, Maret 2013 - Info BPJS Kesehatan Media Internal Resmi BPJS Kesehatan Edisi X Tahun 2014 - http://infopublik.id

Teknik Validasi : Data Sekunder

Tahun Inisiasi : 2014

Tahun Implementasi : 2014


Deskripsi

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, yang dulu bernama PT Askes (Persero), merupakan BUMN yang mempunyai tugas dari pemerintah untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan. BPJS Kesehatan mulai beroperasional dan menjalankan aktivitas kegiatannya pada tanggal 1 Januari 2014. Jaminan kesehatan merupakan suatu jaminan berupa perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Semua penduduk Indonesia wajib menjadi peserta jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan termasuk orang asing yang telah bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia dan telah membayar iuran.

Semenjak adanya BPJS Kesehatan, minat masyarakat untuk menjadi peserta jaminan kesehatan semakin meningkat. Kebutuhan masyarakat untuk hidup sehat dan memperoleh jaminan kesehatan mengakibatkan masyarakat membludak dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Antrean terjadi di beberapa tempat, baik yang ingin mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan maupun pasien yang hendak berobat di rumah sakit. Antrean cukup panjang yang terjadi akibat banyaknya peserta menimbulkan kesan pelayanan yang lambat. Banyak keluhan yang muncul mengenai antrean yang panjang, terutama pada rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan.

Menghadapi permasalahan antrean ini, BPJS perlu mengantisipasi sejak dini dengan melakukan berbagai inovasi dan langkah terobosan yang dikembangkan, salah satunya melalui bridging system. Pengembangan sistem ini merupakan upaya yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan dalam rangka meningkatkan mutu layanan kepada peserta maupun kepada fasilitas kesehatan. Sebelum menggunakan bridging system, peserta harus mengantre beberapa jam untuk mendapatkan pelayanan. Bahkan panjangnya antrean peserta BPJS Kesehatan ada yang mencapai larut malam.

Hasil yang diharapkan dengan adanya bridging system ini adalah peningkatan kualitas pelayanan kepada pasien, terutama agar pasien tidak terlalu antre di loket rumah sakit. Pelayanan secara cepat ini agar pasien yang menjadi peserta jaminan kesehatan bisa segera memperoleh pelayanan yang diinginkan dan tidak terlalu lama menunggu. Berbagai penggunaan teknologi dalam implementasi BPJS Kesehatan, salah satunya bridging system, harapannya adalah bisa mencapai kecepatan untuk pelayanan lebih baik (better), harus makin murah (cheap) dalam arti terjangkau, mudah (easy) dan cepat (fast).

 

Detil Inovasi

 
 
Tidak ada data
 
Tidak ada data
 

BPJS Kesehatan telah mengembangkan sistem Teknologi Informasi (TI) yang disebut dengan bridging system. Sistem ini merupakan penggunaan aplikasi berbasis web service yang menghubungkan berbagai sistem pelayanan kesehatan yang ada menjadi satu. Hal ini dimaksudkan agar mampu meningkatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit atau puskesmas, dan pelayanan kesehatan lain yang menerima pelayanan JKN. Bridging system dapat melakukan dua proses pelayanan sekaligus tanpa adanya intervensi satu sistem sama lain secara langsung. Hubungan kedua sistem tersebut dikelola melalui web service yang membatasi akses ke masing-masing sistem sehingga securitas data terjaga.

Penerapan bridging system ini dimulai dengan adanya perjanjian kerjasama rumah sakit untuk menerapkan sistem ini, sehingga akhirnya tercipta komunikasi data yang efektif dan terpadu antara BPJS Kesehatan, rumah sakit dan Kementerian Kesehatan. Karena sebelum adanya sistem ini, ketiga pihak tersebut mempunyai data masing-masing sehingga ada data yang tidak akurat dan berpotensi menimbulkan anteran di berbagai rumah sakit. Melalui bridging system, yang didukung penggunaan teknologi informasi maka tercapai persamaan data yang dapat membawa dampak positif terhadap pelayanan kepada masyarakat. Di rumah sakit yang sudah menerapkan bridging system, waktu tunggu antrean bisa dipangkas menjadi lebih cepat. Bridging system dapat meningkatkan entry data processing serta efisiensi penggunaan sumber daya dengan tetap menjaga keamanan dan kerahasiaan masing-masing sistem, namun bersifat transparan. Selain itu, bridging system diharapkan dapat meningkatkan kecepatan dalam proses pengelolaan klaim, piutang, maupun verifikasi.

 

Bridging System mempunyai manfaat bagi pasien, rumah sakit dan BPJS Kesehatan. Bagi pasien, tentunya bisa memotong proses antrean dan pelayanan kesehatan di rumah sakit menjadi lebih cepat sehingga pasien tidak perlu terlalu lama hanya untuk menghabiskan waktu untuk mengantre di rumah sakit. Untuk rumah sakit, bridging system bisa menghemat sumber daya manusia yang dimiliki, hal ini terkait personil yang mengurusi kecepatan pengisian data dan kecepatan proses pengajuan klaim yang sedang ditangani. Sedangkan bagi BPJS Kesehatan, bridging system membuat akurasi data menjadi lebih baik serta proses verifikasi dan pengolahan data jadi lebih cepat.

Secara umum, bridging system ini dapat meminimalisir antrean menjadi jauh lebih cepat, dapat meningkatkan administrasi peserta, menghemat pegawai dan sarana-prasarana, perekaman data layanan kesehatan dan proses pengajuan klaim. Yang lebih penting lagi, akurasi data bisa dijamin, proses verifikasi dan akhirnya pembayaran klaim menjadi lebih cepat. Selain itu, pengolahan data lebih cepat dan ada transparansi pembiayaan karena perekaman data dilakukan pada sistem yang sama.

 

Bridging system BPJS Kesehatan ini sudah diimplementasikan di beberapa rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia, misalnya rumah sakit di Jakarta seperti : RS Cipto Mangunkusumo, RSUD Tarakan, RSUP Fatmawati, RS Haji, RS Kanker Dharmais, RS Jantung Harapan Kita, RSPI Sulianti Saroso, dan RSUP Persahabatan. Sistem ini memang diharapkan bisa diterapkan ke seluruh rumah sakit vertikal pemerintah di Indonesia karena berguna dalam meningkatkan pelayanan administrasi kepada pasien. Bagi rumah sakit yang ingin menerapkan bridging system maka diperlukan penyesuaian sistem yang ada di rumah sakit dengan BPJS Kesehatan. Jika sistem yang dipakai berbeda maka diperlukan waktu untuk perbaikan dan penyesuaian sistem yang ada. Penyesuaian sistem dilakukan agar tidak terjadi intervensi satu sistem dengan yang lainnya sehingga tingkat keamanan dan kerahasiaan masing-masing sistem dapat terjaga.

 

Inovasi Lainnya