Detail Inovasi


Penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UN CBT)

Waktu Dibuat: Kamis, 24 Maret 2016 | 12:58:55 WIB - Dilihat: 1045, Diunduh: 313 Unduh
 

Produk Inovasi : Peningkatan Mutu, Efisiensi, dan Kredibilitas Penilaian Pendidikan Melalui Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) Berbasis Komputer Pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Jenis Inovasi: Teknologi

Kelompok Inovator : Kementrian / Lembaga

Nama Instansi : Kemendikbud

Unit Instansi : Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemendikbud

Penggagas : Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC.,

Kontak Person : Pusat Penilaian Pendidikan Balitbang Kemendikbud Jl. Gunung Sahari No 4, Jakarta Pusat Telp/email: 081802630252/nizam@kemdikbud.go.id

Sumber : Dokumen Proyek Perubahan Diklatpim & Observasi

Teknik Validasi : Observasi

Tahun Inisiasi : 2014

Tahun Implementasi : 2014


Deskripsi

Transformasi UN dari PBT menuju CBT akan memberi banyak perubahan yang substantif untuk meningkatkan mutu, efisiensi, dan efektivitas penilaian pendidikan secara nasional.

Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) dari berbasis kertas (paper based test, PBT) menuju berbasis komputer (computerized based test, CBT) merupakan bagian penting dari reformasi transformasi besar Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menjadi pusat penilaian pendidikan kelas dunia (World Class Assessment Center). Ujian Nasional yang diselenggarakan setiap tahun di Indonesia merupakan high stake exam terbesar di dunia dengan jumlah peserta lebih dari 7 juta siswa di lebih dari 80.000 satuan pendidikan (SMP/MTs, SMA/MA, SMK, dan Kelompok Belajar Paket B dan C). Logistik yang dikelola sangat besar, 35 juta eksemplar naskah ujian yang merupakan dokumen negara yang bersifat rahasia (setara dengan lebih dari 400 container) harus didistribusikan ke seluruh satuan pendidikan dengan berbagai moda transportasi, pesawat udara, kapal, truk, hingga harus naik kuda dan perahu untuk mencapai sekolah-sekolah di daerah pedalaman secara tepat jumlah, tepat mutu, tepat sasaran, dan tepat waktu. Pencetakan bahan UN juga merupakan pekerjaan besar melalui proses pelelangan umum sesuai Kepres dan pengawasan selama pencetakan yang harus dilakukan 24 jam sehari selama sebulan penuh. Mobilisasi SDM juga luar biasa besar karena melibatkan lebih dari 700,000 panitia dan pengawas dari berbagai kalangan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Sekolah, Perguruan Tinggi, dan Kepolisian. Dari segi substansi, penyelenggaraan ujian berbasis kertas dengan skala besar tidak memungkinkan bentuk soal selain multiple choices, sementara kebutuhan asesmen pendidikan mengharuskan pengukuran daya kritis dan kreatif siswa. Pengukuran kompetensi kognitif orde tinggi seperti analisa, sintesa, dan evaluasi sulit dilakukan dengan bentuk soal pilihan ganda (multiple choices). Transformasi UN dari PBT menuju CBT akan memberi banyak perubahan yang substantif untuk meningkatkan mutu, efisiensi, dan efektivitas penilaian pendidikan secara nasional. Pada bulan Mei 2015 sebagai langkah ujicoba diselenggarakan UN CBT di 133 SMA, 2 MA, dan 378 SMK dengan jumlah peserta 158.220 peserta, selanjutnya bulan Juni 2015 diselenggarakan pula untuk jenjang SMP dengan 41 SMP dan 9.184 peserta.

Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) Berbasis Komputer (UN CBT) bertujuan menciptakan sebuah sisten ujian nasional yang baru dalam rangka modernisasi penilaian pendidikan sehingga dapat mensyajikan soal-soal yang lebih tepat untuk mengukur kompetensi siswa. Manfaat yang diharapkan adalah 1) Terjadinya efisiensi penyelenggaraan UN (biaya yang lebih murah dan logistik yang lebih mudah); 2) Berkurangnya langkah pemrosesan hasil ujian, karena tidak perlu melakukan pemindaian lembar jawaban ujian yang selain mahal, rumit, juga rawan terhadap kecurangan; 3) Terjaminnya keamanan soal, karena soal tidak dilepas ke publik, masih tersimpan dalam server dan terlindungi melalui enkripsi yang aman; 4) Meminimalisir kecurangan, karena sistem pengamanan berlapis yang dapat diterapkan melalui sistem komputer; 5) Meningkatkan mutu UN, karena soal dikelola melalui sistem komputer; 6) Penghematan biaya dan waktu penyelenggaraan UN (penghematan pada orde 100 milyar rupiah per tahun); 7) Meningkatkan kompetensi dan daya saing siswa. Strategi yang dilakukan untuk penyelenggaran UNCBT ini adalah 1) Menciptakan, menginisiasi dan memperkenalkan sistem ujian nasional berbasis komputer (UN CBT); 2) Pilotting ujian nasional berbasis komputer (UN CBT) pada tahun 2015 di beberapa sekolah yang sudah siap baik sarana prasarana dan SDM-nya; 3) perluasan pelaksanaan UN CBT di seluruh provinsi di Indonesia; 4) membuat bentuk soal UN yang beragam yang dapat merefleksikan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa.

Agar program perubahan ini dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan diperlukan dukungan dan kerja sama dari semua stakeholders terkait baik internal maupun eksternal. Stakeholder yang terlibat untuk membantu keberhasilan  program yang digagas ini adalah berasal dari pihak  Pusat Penilaian Pendidikan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Ditjen Pendidikan Menengah dan Kejuruan, Ditjen Pendidikan Dasar, Balitbang Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. Selain itu ikut dilibatkan pula Kementerian Agama (Direktorat Jenderal Pendidikan Agama), Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota seluruh Indonesia, sekolah, guru, siswa, orang tua siswa juga dari pihak masyarakat.

 

Detil Inovasi

 
 

Faktor pendorong keberhasilan program UN CBT ini adalah

  1. Dukungan pimpinan, terutama Mendikbud yang baru, Dr. Anies Baswedan,
  2. Dukungan dari Komisi X DPR atas rencana program UN CBT (meskipun pada awalnya masih skeptis),
  3. Dukungan lintas unit utama Kemendikbud, terutama Direktorat Pembinaan SMK, Direktorat Pembinaan SMA, dan Direktorat Pembinaan SMP,
  4. Dukungan Kementerian Agama (Dirjen Pendidikan Agama),
  5. Dukungan Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten/Kota, dan sekolah yang menyadari pentingnya perubahan ini,
  6. Dukungan internal Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Litbang Kemdikbud,
  7. Dukungan dari Pusat Teknologi Informasi dan Telekomunikasi Setjen Kemdikbud,
  8. Siswa dan orangtua yang buy in ide perubahan,
  9. Persiapan yang intensif dan profesional,
  10. Komunikasi media yang intensif dan proaktif.
 

Faktor penghambat keberhasilan program ini adalah

1. Kebijakan

  1. Potensi hambatan adalah adanya perubahan kebijakan dari pimpinan kementerian, hal tersebut ternyata tidak terjadi, bahkan Mendikbud yang baru lebih mendukung UN CBT,
  2. Penyusunan pos UN dan peraturan BSNP tentang penyelenggaraan UN CBT 2015, sebagai hal baru masih ada resistensi dari Badan Standar Nasional Pendidikan sebagai penyelenggara UN untuk menyelenggarakan UN CBT pada tahun 2015, bahkan ada anggota yang sempat meragukan dan akan menghentikan rencana piloting UN CBT,
  3. Resistensi dari pihak – pihak yang mendapatkan keuntungan dari pelaksanaan UN berbasis kertas.

2. Pelaksanaan

  1. Resistensi dari siswa, orang tua, sekolah, pemda atas perubahan (pengenalan hal baru)
  2. Resistensi dari pihak – pihak yang mendapatkan keuntungan dari pelaksanaan UN berbasis kertas
  3. Keterbatasan SDM, sarana dan prasarana
  4. Keterbatasan koneksi/ jaringan internet
  5. Terputusnya daya listrik
  6. Resistensi dari siswa, orang tua, sekolah, dinas pendidikan

Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan beberapa penyelesaian sebagai berikut:

  1. Persiapan teknis yang matang dan profesional meskipun waktunya relatif singkat dari Tim Puspendik;
  2. Persuasi dan meyakinkan para pihak yang berpotensi menghambat pelaksanaan piloting UN CBT melalui komunikasi intensif dan pendekatan argumentatif rasional berdasar fakta (evidence based)
  3. Mengkampanyekan penyelenggaraan UN CBT ke media, baik cetak maupun elektronik serta menanggapi secara positif dan proaktif setiap response negatif dari para pihak yang tidak/kurang setuju dengan UN CBT.
  4. Menyiapkan rencana kontingensi (contingency plan) yang tidak merugikan siswa untuk mengatasi apabila terjadi kegagalan dalam implementasi dan mensosialisasikannya ke para pihak.
 

Mengingat lingkup perubahan yang signifikan dan fundamental, proyek perubahan ini dirancanglah tahapan penyelenggaraannya sebagai berikut:

  1. Menjalin dukungan dari pimpinan, BSNP, Dinas Provinsi dan Sekolah untuk penyelenggaraan UN CBT;
  2. Pendataan, verifikasi sekolah perintis UN CBT sebagai penyelenggara pilotting UN CBT;
  3. Penyiapan SDM, software UN CBT, hardware UN CBT untuk uji coba sistem UN CBT;
  4. Menyusun Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional 2015 termasuk UNCBT untuk di implementasikan dalam UN 2015;
  5. Penyelenggaraan UN CBT di 300 sekolah (6 Provinsi), dengan menggunakan dual sistem (CBT dan PBT), dalam realisasinya berhasil dilakukan di 554 sekolah (185% dari target) di 24 provinsi (400% dari target);
  6. Pelaksanaan UN CBT disemua provinsi (dengan ketentuan sekolah penyelenggara memiliki tempat untuk penyelenggaraan ujian nasional, sedangkan sekolah– sekolah yang belum terlayani TIK tetap menggunakan Paper Based Test);
  7. Pengembangan teknologi UN CBT dengan soal non-multiple choices.
 

Pelaksanaan program UN CBT ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi perbaikan mutu pendidikan di Indonesia dengan dimulai dari perbaikan sistem penilaiannya. Kemanfaatan implementasi program tersebut adalah:

  1. Pada Ujian Nasional CBT tidak terjadi kecurangan (tidak terjadi contek-mencontek, indeks integritas pelaksanaan UN CBT = 100%), hal ini merupakan nilai tambah yang tidak dapat diperoleh dari UN PBT (tingkat kecurangan tinggi, diindikasi terjadi di lebih dari 60% sekolah)
  2. Pelaksanaan UN CBT jauh lebih efisien dibanding UN PBT karena tidak lagi diperlukan pencetakan soal, pengiriman soal secara fisik, pengawalan soal secara fisik, pendistribusian soal secara fisik.
  3. Pada piloting UN CBT di 554 sekolah yang dilakukan pada tahun 2015, meskipun baru mencakup 2% peserta UN, berpotensi menghemat pencetakan 827.836 eksemplar bahan ujian (bila dirupiahkan senilai lebih dari 8 milyar rupiah). Sementara pelaksanaan UN CBT memanfaatkan infrastruktur komputer yang sudah ada di sekolah, sehingga hampir tidak ada investasi baru.
  4. Pelaksanaan scoring UN CBT dilakukan secara langsung sehingga tidak memerlukan pemindaian lembar jawaban ujian (penghematan tenaga kerja dan potensi masalah/ kebocoran, dsb)
  5. Pelaksanaan UN CBT lebih sederhana, menghemat waktu, dan dapat dilakukan setiap saat. Hal ini memberi fleksibilitas bagi penyelenggaraan ujian nasional.
  6. Dengan ujian berbasis komputer, maka bentuk soal ujian nasional ke depan dapat lebih beragam, tidak hanya pilihan ganda. Hal ini merupakan tujuan utama reformasi penilaian pendidikan secara nasional. Bentuk soal yang beragam memungkinkan pengukuran kreatifitas dan kemampuan analitis siswa secara lebih baik dan komprehensif.

Implementasi UN CBT pada tahap pertama telah terlaksana dengan hasil yang sangat bagus (melampaui target) dengan pelaksanaan piloting UN CBT di 554 sekolah (185% dari target) di 24 provinsi (400% dari target),  atas pelaksanaan UN CBT tahap pertama tersebut telah dilakukan evaluasi teknis, evaluasi secara independen juga dilakukan oleh BSNP sebagai penyelenggara UN. Demikian pula Komisi X DPR melakukan evaluasi atas UN CBT. Hasil semua evaluasi tersebut sangat positif.

Telah dilakukan survei terhadap siswa (sebagai sasaran utama) atas pelaksanaan UN CBT. Survei pendapat siswa (sebagai sasaran yang telah mengikuti UN CBT dilakukan di 515 sekolah dengan responden sebanyak 6.665 siswa.  Hasil survei tersebut sangat positif, dengan approval rate di atas 95% (hasil lengkap terlampir). Dari pantauan media diperoleh response yang sangat positif baik dari siswa, guru, orangtua, masyarakat, maupun pengambil kebijakan (tidak kurang dari Presiden Jokowi meng-endorse penggunaan UN CBT).

Rencana untuk tahun 2016 telah dimulai pada bulan Juni 2015 dengan membentuk panitia tingkat Kabupaten/ Kota untuk mulai melakukan pendataan sekolah yang akan mengikuti UN CBT tahun 2016. Direncanakan 50% peserta SMK (650.000 siswa), 15% peserta SMA (240.000 siswa), dan 5% peserta SMP (200.000 siswa) akan mengikuti UN CBT. Bila target lebih dari 1 juta siswa menggunakan UN CBT tersebut tercapai, maka ini akan merupakan satu prestasi kelas dunia, karena belum satu negara pun mampu menyelenggarakan ujian nasional sebesar itu dengan basis computer. Persiapan teknis sedang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan bekerja sama dengan berbagai pihak. Persiapan teknis meliputi: audit teknologi, kajian teknis independen, dan penyempurnaan sistem, serta pembentukan unit-unit koordinator di daerah.

 

Pelaksanaan UN CBT dapat direplikasi untuk bentuk-bentuk asesmen / penilaian yang lain baik dalam skala kecil maupun skala besar. Proses replikasi dapat terwujud dengan adanya hal – hal berikut ini :

  1. Adanya dukungan yang kuat dari pimpinan dan Tim Efektif;
  2. Komitmen yang kuat dari pimpinan dan tim pelaksana;
  3. Tersedianya perangkat computer untuk pelaksanaan untuk pelaksanaan penilaian CBT (cukup dengan perangkat komputer yang ada tanpa harus melakukan pengadaan baru);
  4. Tersedianya program penilaian berbasis komputer (CBT) serta SDM yang mampu mengoperasikan program tersebut;

MRPTNI (Majelis Rektor PTN se-Indonesia) dan panitia SNMPTN akan turut menggunakan ujian CBT untuk seleksi mahasiswa baru PTN tahun 2016.

 

 

Inovasi Lainnya