Detail Inovasi


Indonesian Culture Collection (InaCC) Sebagai Pusat Depositori Nasional Untuk Koleksi Mikroba

Waktu Dibuat: Kamis, 24 Maret 2016 | 12:50:41 WIB - Dilihat: 730, Diunduh: 298 Unduh
 

Produk Inovasi : Meningkatkan Peran Indonesian Culture Collection (InaCC) Sebagai Pusat Depositori Nasional Untuk Koleksi Mikroba

Jenis Inovasi: Produk

Kelompok Inovator : Kementrian / Lembaga

Nama Instansi : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

Unit Instansi : Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi – LIPI Cibinong Science Center LIPI

Penggagas : Dr. Siti Nuramaliati Prijono

Kontak Person : Bidang Mikrobiologi, Puslit Biologi – LIPI Cibinong Science Center LIPI Jl. Raya Jakarta – Bogor Km 46, Cibinong Telp. 021-8765066Fax. 021-8765062

Sumber : Dokumen Proyek Perubahan Diklatpim & Observasi

Teknik Validasi : Observasi

Tahun Inisiasi : 2014

Tahun Implementasi : 2015


Deskripsi

Indonesia sangat kaya mikroorganisme. Mikroorganisme jika tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan kepunahan/dicuri oleh pihak luar. Oleh karena itu, InaCC dipandang sebagai salah satu solusi menyimpan mikroorganisme yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan kembali 30 tahun yang akan datang.

Mikroorganisme mempunyai peran yang sangat penting dalam berbagai sektor seperti pangan/ pertanian, obat-obatan/ kesehatan, industri, kehutanan dan lingkungan. Indonesia mempunyai kekayaan mikroorganisme yang masih belum didata dan dieksplorasi secara optimal. Meningkatnya jumlah penelitian yang melibatkan eksplorasi mikroorganisme yang memiliki nilai bioprospeksi akan menyebabkan semakin banyaknya mikroorganisme yang memiliki potensi baru secara komersial bisa ditemukan. Mikroorganisme yang baru dan memiliki nilai lebih dan unik telah dimasukkan kedalam aplikasi paten untuk melindungi hak intelektual para peneliti dan institusinya. Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2001 tentang Paten pada pasal 7 disebutkan bahwa Paten tidak diberikan untuk Invensi tentang semua makhluk hidup, kecuali jasad renik (mikroorganisme). Salah satu syarat utama agar aplikasi paten yang berkaitan dengan hal seperti ini bisa diberikan adalah dengan menyimpan strain/ sample  yang akan dipatenkan di lembaga penyimpanan mikroorganisme (Microbial Culture Collection) yang diakui oleh kantor Paten (Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1991 tentang Tata Cara Permintaan Paten) yang saat itu belum ada.

Pada saat ini, “Indonesian Culture Collection (InaCC) adalah satu-satunya lembaga tempat penyimpan koleksi mikroba di Indonesia yang sudah memenuhi Microbial Culture Collection yang berstandar internasional dengan telah dimilikinya  fasilitas fisik yang berfungsi sebagai tempat isolasi, karakterisasi, penyimpanan, dokumentasi dan distribusi mikroorganisme hasil koleksi dengan cara yang benar dan bertanggung jawab kepada publik. InaCC mewakili  Indonesia dalam keanggotaan ACM (The Asian Consortium for the Conservation and Sustainable use of Microbial Resources) yang merupakan konsorsium Pusat Koleksi Mikroorganisme di Asia.

Tujuan akhir dari proyek perubahan ini adalah agar semakin banyak peneliti/ culture collection/ industri yang menyimpan duplikat koleksi mikroba di InaCC dan meningkatkan peran InaCC sebagai pusat depositori nasional untuk koleksi mikroba di Indonesia. Inovasi yang diakukan adalah mempercepat keluarnya Peraturan Kepala LIPI untuk mewajibkan para peneliti mikroorganisme untuk menyimpan kultur mikroorganisme di InaCC (Peraturan Kepala LIPI No, 4 Tahun 2014 tentang Penyimpanan Kultur Mikroorganisme pada InaCC LIPI, tgl. 4 September 2014). Selain itu, inovasi yang dilakukan adalah percepatan penyusunan naskah akademik dan rancangan Peraturan Presiden tentang penyimpanan dan pengelolaan kultur mikroorgnisme sehingga InaCC secara hukum diakui oleh kantor paten sebagai lembaga penyimpanan mikroorganisme di Indonesia pada tahun 2015. Selanjutnya, pada tahun 2017 InaCC diharapkan dapat diakui sebagai International Depository Authority (IDA) di bawah perjanjian Budapest pada International Recognition of  the Deposit of Microorganisms for the Purposes of Patent Procedure.

Stakeholders yang terlibat dalam proyek perubahan ini adalah stakeholder  internal terdiri dari Puslit Biologi, Puslit Bioteknologi, Puslit Biomaterial, Puslit Limnologi, Puslit Oseanografi, Puslit Kimia LIPI. Stakeholders Eksternal terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, Balitvet  (Balitvet Culture Collection/ BCC), Biogen (Biogen Culture Collection/ BiogenCC), BPPT  (BPPT Culture Collection/ BPPTCC), Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Culture Collection/PAIRCC), Pusat Kontrol Kualitas Ikan (National Center for Fish Quality Culture Collection/NCQCCC), ITB (ITB Culture Collection/ITBCC), IPB (IPB Culture Collection/IPBCC), UI (University of Indonesia Culture Collection/UICC), Univ Diponegoro  (Diponegoro University Culture Collection/DUCC), Univ. Udayana (Universitas Udayana Culture Collection/ UNUDCC), Lemigas  (Biotechnology Lemigas Culture Collection/ BLCC) dan Biofarma (Biofarma Culture Collection/ BFCC).

 

Detil Inovasi

 
 

Faktor pendorong keberhasilan pelaksanaan program perubahan ini antara lain:

  1. Tingginya keanekaragaman mikroorganisme di Indonesia
  2. Tingginya manfaat mikroorganisme untuk menghasilkan produk-produk bernilai ekonomi tinggi (pangan/pertanian, obat-obatan/ kesehatan, energi, industri, lingkungan, dsb).
  3. Meningkatnya jumlah penelitian yang melibatkan eksplorasi mikroorganisme yang memiliki nilai bioprospeksi dan dapat dipatenkan.
  4. Strain mikroorganisme yang akan dipatenkan harus disimpan di lembaga penyimpanan mikroorganisme (Microbial Culture Collection) yang diakui oleh kantor Paten (Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1991 tentang Tata Cara Permintaan Paten), tetapi ternyata sampai sekarang belum ada lembaga penyimpanan mikroorganisme di Indonesia yang diakui oleh Kantor Paten sebagai tempat menyimpan strain yang akan dipatenkan.
  5. InaCC adalah satu-satunya lembaga tempat penyimpanan koleksi mikroba di Indonesia  yang sudah berstandar internasional.
  6. Adanya pengakuan dari negara-negara Asia tentang InaCC sehingga masuk ke dalam anggota  ACM (The Asian Consortium for the Conservation and Sustainable Use of Microbial Resources) dan telah teregistrasi di  WFCC (World Federation of Culture Collection).
 

Adapun yang menjadi faktor penghambat program perubahan ini adalah sebagai berikut:

  1. Belum adanya peraturan di Indonesia  yang menetapkan  InaCC sebagai lembaga penyimpanan  mikroorganisme (Microbial Culture Collection) yang diakui oleh kantor Paten.
  2. Proses Rancangan Peraturan Presiden tentang Penyimpanan dan Pengelolaan Kultur Koleksi Mikroorganisme sampai dengan disahkannya Peraturan Presiden tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama.
  3. Keterbatasan SDM peneliti bidang taksonomi mikroorganisme dan kurator mikrobiologi.
  4. Penyimpanan koleksi mikroba di InaCC memiliki standar minimal yang ketat sesuai SOP, sehingga hanya mikroorganisme yang telah teridentifikasi dan terkarakterisasi yang dapat disimpan di InaCC. Selain itu, biaya pengelolaan koleksi mikroba berstandar internasional membutuhkan jumlah biaya yang cukup besar.
  5. Memberikan pemahaman dan merubah mindset tentang pentingnya menyimpan koleksi mikroba di lembaga penyimpanan mikroorganisme nasional yang telah berstandar internasional serta meningkatkan tingkat kepercayaan memerlukan waktu dan sosialisasi secara terus menerus.
 

1. Pemetaan terhadap satuan kerja yang ada di LIPI dan kementerian/lembaga pemerintah/swasta yang menyimpan koleksi mikroba melalui survei yang digunakan sebagai input untuk mengetahui koleksi mikroba yang dikelola dan keinginan stakeholder terhadap peran InaCC.

  1. Peneliti di bidang mikroorganisme, Puslit Biologi LIPI ternyata memiliki komitmen 100% untuk berkontribusi dan menyimpan isolat mikroorganisme ke InaCC serta yakin bahwa Indonesia perlu InaCC
  2. 72% stakeholders internal ternyata memiliki koleksi mikroba sendiri. Hanya 21% koleksi mikroba yang telah dipreservasi di InaCC.
  3. Terkait pengembangan dan pemanfaatan mikroorganisme, ternyata stakeholder internal baru 30% yang menyimpan koleksi mikroba yang telah dimanfaatkan di InaCC.

2. Penyusunan kebijakan di tingkat LIPI dan tingkat nasional

  1. Peraturan Kepala LIPI No. 4 Tahun 2014 tentang kebijakan penyimpanan kultur mikroorganisme pada Indonesian Culture Collection (InaCC) telah ditandatangani oleh Kepala LIPI pada tanggal 4 September 2014
  2. Menyusun dokumen yang mengatur depositori dan alur distribusi serta Material Transfer Agreement (MTA) yang terkait dengan fungsi InaCC sebagai depositori nasional
  3. Draft naskah akademik dan draft rancangan Peraturan Presiden tentang Penyimpanan dan Pengelolaan Kultur Koleksi Mikroorganisme

3. Melakukan sosialisasi tentang InaCC

4. Penyusunan naskah akademik dan rancangan Peraturan Presiden tentang penyimpanan dan pengelolaan kultur mikroorganisme sehingga InaCC secara hukum diakui oleh kantor paten sebagai lembaga penyimpanan mikroorganisme di Indonesia pada tahun 2015

5. InaCC diakui sebagai International Depository Authority (IDA) pada tahun 2017

 

Manfaat yang dihasilkan dari program perubahan ini adalah:

  1. Seluruh mikroorganisme yang dikoleksi berasal dari Indonesia dapat ditelusuri informasinya secara lengkap di InaCC. Khususnya untuk koleksi mikroba yang bisa dipesan dapat ditelusuri  di InaCC online catalogue melalui website http://inacc.biologi.lipi.go.id.
  2. Meningkatkan pelayanan publik bagi yang akan mendeposit mikroorganisme ataupun bagi yang memerlukan mikroorganisme untuk keperluan penelitian ataupun industry (dokumen deposit atau pesan dapat diunduh di http://inacc.biologi.lipi.go.id)
  3. Strain yang akan dipatenkan bisa disimpan di InaCC dan tidak perlu disimpan di Microbial Culture Collection di luar negeri (InaCC sudah menjadi anggota  ACM  dan telah teregistrasi di  WFCC  serta fasilitas sudah berstandar internasional).
  4. Specimen mikroorganisme dikelola dengan kualitas yang sangat tinggi dan mengikuti standar internasional
  5. Indonesia dapat lebih memenuhi komitmen terhadap dunia internasional terkait Convention on Biological Diversity (CBD) dan protokol Nagoya (UU no 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan Convention on Biological Diversity dan UU no. 11 Tahun 2013 tentang Protokol Nagoya- Akses pada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang Timbul dari Pemanfaatannya atas Konvensi Keanekaragaman Hayati)
  6. Peredaran specimen mikroorganisme dapat lebih terawasi peredarannya
  7. Dapat menjembatani provider dan pengguna
  8. Mempercepat pemanfaatan potensi mikroorganisme yang selama ini dianggap sebagai Sleeping Microbial Beauty

Pelaksanaan program perubahan ini terkendala pada payung hukum yang masih terhambat di Kementerian Hukum dan HAM, apalagi dengan adanya nomenklatur baru dan struktur kementerian yang baru. Capaian program perubahan sampai dengan saat ini terdiri dari:

  1. Jumlah peneliti LIPI yang sudah bergabung di InaCC sebanyak  18 orang.
  2. Jumlah koleksi mikroorganisme yang telah teridentifikasi dan terkarakterisasi sesuai standar WFCC saat ini berjumlah 2363 meliputi 435 aktinomisetes (actinomycetes), 463 bakteri (bacteria), 528 kapang (filamentous fungi),  937 khamir (yeast) dan 50 arkea (archaea).
  3. catatan: waktu sampai dengan laporan proyek perubahan InaCC dibuat, jumlah koleksi/working culture = 13.107. Koleksi ini belum teridentifikasi dan terkarakterisasi sesuai WFCC.
  4. Sosialisasi tentang InaCC sebagai Pusat Depositori Nasional untuk koleksi mikroba.
  5. Peraturan Kepala LIPI No. 4 Tahun 2014 tentang kebijakan penyimpanan kultur mikroorganisme pada InaCC telah ditandatangani oleh Kepala LIPI pada tanggal 4 September 2014
  6. Dokumen yang mengatur depositori dan pemesanan/alur distribusi serta Material Transfer Agreement (MTA) yang terkait dengan fungsi InaCC sebagai depositori nasional
  7. Draft naskah akademik dan draft rancangan Peraturan Presiden tentang Penyimpanan dan Pengelolaan Kultur Mikroorganisme
  8. LIPI telah melakukan konsolidasi dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia agar InaCC menjadi tempat penyimpanan mikroorganisme terkait ajuan paten.
  9. Semakin tinggi komitmen peneliti Indonesia yang memiliki kerjasama penelitian internasional untuk menyimpan mikroorganisme hasil penelitiannya di InaCC.
  10. InaCC-LIPI  akan menjadi host pada pertemuan The 12thAsian Consortium for the Conservation and Sustainable Utilization of Microbial Resources (ACM12) yang anggotanya terdiri dari 22 culture collection dari 16 negara di Asia (Jakarta,  8-10 Oktober 2015). Pada pertemuan ini Presiden World Federation of Culture Collection akan hadir memberikan lecture mengenai regulasi dan akses sumber daya mikroorganisme.
 

Prasyarat yang harus dipenuhi untuk melakukan replikasi antara lain:

  1. Adanya komitmen yang kuat dari pimpinan dan jajarannya untuk mengelola koleksi mikroba secara berkelanjutan
  2. Kerjasama yang baik antara lembaga penyimpanan mikroorganisme (Microbial Culture Collection).
  3. Program pengelolaan koleksi miroba dituangkan dalam Renstra
  4. Adanya SDM peneliti bidang taksonomi mikroorganisme dan kurator mikrobiologi dalam jumlah yang cukup
  5. Adanya sumber dana yang cukup untuk memelihara koleksi mikroba termasuk sarana dan prasarananya.
  6. Koordinasi yang baik dan intensif dengan mitra kerja strategis
  7. Sosialisasi secara terus menerus tentang pentingnya menyimpan koleksi mikroba di lembaga penyimpanan mikroorganisme yang berstandar internasional dan diakui oleh kantor paten.
 

Inovasi Lainnya