Detail Inovasi


Family Gathering Terpadu RSJ Grhasia Yogyakarta

Waktu Dibuat: Kamis, 24 Maret 2016 | 12:22:30 WIB - Dilihat: 774, Diunduh: 559 Unduh
 

Produk Inovasi : Meningkatan Efektivitas Penyelenggaraan Family Gathering Terpadu Dalam Rangka Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Jiwa Berkelanjutan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia – Daerah Istimewa Yogyakarta

Jenis Inovasi: Metode

Kelompok Inovator : Provinsi / Kabupaten / Kota

Nama Instansi : Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Unit Instansi : Rumah Sakit Jiwa Grhasia Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta

Penggagas : drg. Pembayun Setyaningastutie, M.Kes

Kontak Person : Rumah Sakit Jiwa Grhasia Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Telp.(0274) 895143, 895142, 895297 Email: grhasia@jogjaprov.go.id

Sumber : Dokumen Proyek Perubahan Diklatpim & Observasi

Teknik Validasi : Observasi

Tahun Inisiasi : 2014

Tahun Implementasi : 2014


Deskripsi

Family Gathering Terpadu merupakan program bersama antara RSJ Grhasia, ODGJ, dan keluarga pasien untuk mempercepat proses penyembuhan pasien.

paya peningkatan efektivitas penyelenggaraan family gathering terpadu dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan jiwa berkelanjutan Di Rumah Sakit Jiwa Grhasia – DI Yogyakarta yang digagas merupakan usaha untuk menjaring kepedulian keluarga pasien yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Grhasia. Sesungguhnya Upaya Kesehatan Jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga, dan masyarakat dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu, dan berkesinambungan oleh Pemerintah.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI memperlihatkan bahwa rata-rata nasional gangguan jiwa berat di Indonesia adalah 1,7 % dan untuk gangguan mental emosional (cemas dan depresi) di atas usia 15 tahun sebesar 6,0%. Sedangkan prevalensi untuk gangguan jiwa berat di Provinsi DIY sebesar 2,7 % dan untuk angka prevalensi gangguan mental emosional (umur 15+ tahun) juga berada di atas angka nasional. Dampak sosial akibat masalah kesehatan jiwa tersebut antara lain adalah tingginya angka kekerasan baik di rumah tangga maupun di masyarakat, meningkatnya kejadian bunuh diri, penyalahgunaan napza pada remaja, kenakalan remaja, masalah pendidikan, perceraian, pengangguran, kemiskinan, pemasungan, dan lain sebagainya. Upaya rehabilitative kesehatan jiwa merupakan kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan jiwa yang ditujukan untuk mencegah atau mengendalikan disabilitas, memulihkan fungsi sosial, memulihkan fungsi okupasional, dan mempersiapkan dan memberi kemampuan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) agar mandiri di masyarakat.Keterlibatankeluarga perlu diberdayakan dalam bentuk kegiatan secara bersama (family gathering) untuk konseling, latihan perilaku, asuhan keperawatan diperlukan untuk kesembuhan anggota keluarga yang mengalami gangguan kejiwaan. Kondisi ini akan memberi dampak menurunnya angka relaps (kekambuhan) penderita gangguan jiwa yang sekitar 25% - 50%.

Dalam mewujudkan misi memberi pelayanan yang berkualitas dan menjamin keselamatan pasien serta pelayanan yang beretika dan mencerminkan budaya masyarakat DIY, diperlukan sebuah pedoman atau prosedur yang menjamin program Family Gathering Terpadu dapat berjalan secara berkesinambungan.Tujuannya adalah untuk meningkatkan penyelenggaraan family gathering terpadu dalam rangka pelayanan kesehatan berkelanjutan di RSJ Grhasia - DIY. Penyelenggaraan family gathering pada dasarnya untuk melakukan pendekatan pelayanan jiwa berbasis komunitas (masyarakat) dimana seluruh potensi yang ada di masyarakat dilibatkan secara aktif. Manfaat yang ingin dicapai dari program ini adalah 1) Didapatkannya kesepakatan bersama antara RSJ Grhasia dengan stakeholders dalam penyelenggaraan pelayanan berkelanjutan pasca perawatan pasien di Rumah Sakit; 2) Terwujudnya keluarga sadar jiwa secara mandiri dalam mengelola pasien atau orang dengan gangguan kesehatan jiwa; 3) Terbentuknya pelayanan kesehatan jiwa paripurna, mulai dari sistem rujukan pasien di tingkat Puskesmas, RSU tingkat kabupaten/kota, sampai RSJ Grhasia DIY. Strategi yang dilakukan untuk menjalankan program tersebut adalah 1) Menyusun kebijakan dan pedoman penyelenggaraan family gathering; 2) Menyelenggarakan pertemuan dalam rangka meningkatkan kerjasama dalam penyelenggaraan family gathering terpadu untuk menyusun kesepakatan bersama; 3) Menyusun draft Peraturan Gubernur tentang TP-KJM dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan jiwa masyarakat yang terpadu dant erintegrasi; 4) Memperbaiki pelayanan kesehatan jiwa paripurna, mulai dari sistem rujukan pasien di tingkat Puskesmas, RSU tingkat kabupaten/kota sampai RSJ Grhasia DIY; 5) Pembentukan jejaring pelayanan kesehatan jiwa dalam Self Help Group yang merupakan pemberdayaan masyarakat secara mandiri dalam penanganan masalah kesehatan jiwa; 6) Mensosialisasikan serta melaksanakan Peraturan Gubernur tentang Tim Pembina/Pengarah/Pelaksana Kesehatan Jiwa Terpadu Pemda DIY (TP-KJM) secara berjenjang.

Stakeholders yang terlibat dalam kegiatan ini adalah Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta baik Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Kota maupun Puskesmas, keluarga orang dengan gangguan jiwa dan masyarakat sekitar penderita gangguan jiwa.

 

Detil Inovasi

 
 

Faktor pendorong keberhasilan program ini adalah:

  1. Adanya komitmen dari pihak eksekutif dan legislatif dalam pelayanan kesehatan Jiwa dan NAPZA di DIY;
  2. Adanya kebijaksanaan Kemenkes tentang Pemberdayaan Keluarga dalam pelayanan kesehatan jiwa;
  3. RSJ Grhasia memiliki instalasi Keswa dan instalasi rehab mental yang akan mendukung pelaksanaan kegiatan ini;
  4. SDM RSJ Grhasia yang terlatih dalam kegiatan family gathering;
  5. Sebagai salah satu faktor dalam penilaian akreditasi RS versi terbaru dari KARS;
  6. Readmission patient sebagai indikator keberhasilan pelayanan kesehatan jiwa paripurna RSJGrhasia.
 

Faktor yang menghambat keberhasilan implementasi program ini lebih kepada internalisasi sebagai berikut:

  1. Penyelenggaraan family gathering masih bersifat parsial;
  2. Kurangnya promosi pelayanan RSJ Grhasia kepada masyarakat dan stakeholder;
  3. Tingginya angka kekambuhan pasien (rellaps);
  4. Peran serta aktif keluarga dalam perawatan pasien di RS masih rendah;
  5. Belum optimalnya sistem rujukan pasien gangguan jiwa;
  6. Kurangnya komitmen stakeholders karena bukan menjadi indikator kinerja utama, sehingga anggaran sedikit;
  7. Keluarga pasien  masih ada yang tidak bisa baca tulis.
 

Tahapan yang dilakukan untuk program ini dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Penyusunan kebijakan, pedoman dan SOP penyelenggaraan  family gathering secara terpadu;
  2. Menjalin kesepakatan dengan stakeholder untuk mewujudkan pelayanan berkelanjutan bagi pasien jiwa;
  3. Penyusunan draft Peraturan Gubernur tentang Tim Pengarah-Kesehatan Jiwa Masyarakat kepada Kepala Dinas Kesehatan DIY;
  4. Merancang sistem rujukan pelayanan kesehatan secara berjenjang yang didukung jejaring kerja dan dikuatkan oleh Peraturan Gubernur;
  5. Pelatihan dan workshop untuk mewujudkan keluarga sadar jiwa mandiri dalam pengelolaan pasien/ orang dengan gangguan jiwa (ODGJ);
  6. Penyusunan pedoman Self  Help Group dan pembentukkan kelompok tersebut;
  7. Pengintegrasian pelayanan kesehatan jiwa dalam program dan kegiatan stakeholder/ pengampu kebijakan terkait.
 

Program Family Gathering ini bermanfaat baik secara internal maupun eksternal, sebagai berikut:

  1. Pelaksanaan Family Gathering Terpadu menumbuhkan minat dan semangat bagi sarana pelayanan kesehatan dasar dan terdepan (puskesmas) sebagai lini terdepan untuk memberi pelayanan tahap awal bagi penderita gangguan jiwa dan keluarganya;
  2. Menumbuhkan minat Lembaga Swadaya Masyarakat (contoh LSM Karinakas) untuk mendukung program kesehatan jiwa di masyarakat dengan membentuk Desa Siaga Sehat Jiwa yang juga telah diinisiasi oleh RSJ Grhasia pada tahun sebelumnya;
  3. Dalam perkembangan pelaksanaan program Family Gathering Terpadu, ternyata lebih efektif menggunakan model program edukasi keluarga, karena pertemuan tidak hanya 1 kali dan ada muatan transfer of knowledge yang lebih detail tentang bagaimana mendampingi ODGJ untuk meningkatkan kapasitas mental, pengetahuan, dan keterampilan keluarga ODGJ;
  4. Penyembuhan kesehatan jiwa terbukti lebih cepat dengan pendampingan keluarga yang didapatkan dari program Family Gathering.

Sampai saat ini, kebijakan, pedoman, dan SOP penyelenggaraan family gathering secara terpadu telah berhasil disusun dan disahkan. Implementasinya:

  1. Dalam pelaksanaan Family Gathering Terpadu sampai saat ini masih dilakukan dengan menggunakan dasar perangkat aturan yang telah ada tersebut yang akan terus disempurnakan pelaksanaannya.;
  2. Sistem rujukan balik telah dilakukan oleh RSJ Grhasia secara manual (dengan surat rujukan balik yang dikirimkan kepada sarana pelayanan kesehatan jejaring melalui keluarga) dan saat ini sedang dikembangkan surat rujukan balik tersebut dikirim melalui email agar lebih cepat mendapatkan tindak lanjut dari jejaring kerja RSJ Grhasia
  3. Pembentukan TP-KJM (Tim Pembina Kesehatan Jiwa Masyarakat) yang dikuatkan oleh Peraturan Gubernur sampai saat ini masih berproses dan merupakan kewenangan Dinas Kesehatan DIY sebagai pengampu kebijakan bidang kesehatan di wilayah DIY (RSJ Grhasia sudah mengusulkan kembali kepada Dinas Kesehatan DIY untuk kepentingan pembentukan TP-KJM)
 

Agar program ini dapat direplikasi dengan baik, ada beberapa prasyarat kondisi yang harus dipenuhi antara lain:

  1. Komitmen dari pimpinan dan utamanya Dinas Kesehatan dan kepala daerah;
  2. Program ini dapat direkomendasi untuk diterapkan pada daerah yang langka, memiliki tenaga perawat dan tenaga medis kedokteran jiwa ataupun yang jauh jaraknya dengan RSJ;
  3. Pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam penanganan kesehatan jiwa sangat dibutuhkan agar kondisi akut dan berat kelainan jiwa seseorang dapat diminimalisir;
  4. Pemahaman dan keterlibatan keluarga dan masyarakat diawali dengan deteksi dini kesehatan jiwa seseorang, sehingga pengenalan dan penanganan kasus gangguan jiwa ringan bisa disosialisasikan dan dilatih dalam masyarakat dibantu oleh pemangku bidang kesehatan dan lintas sektor terkait.
 

Inovasi Lainnya