Detail Inovasi


Sistem Kerja, Kompetensi dan Budaya Kerja Berorientasi Kualitas

Waktu Dibuat: Rabu, 23 Maret 2016 | 11:43:57 WIB - Dilihat: 629, Diunduh: 336 Unduh
 

Produk Inovasi : Pengembangan Budaya Kerja Berorientasi Kualitas Melalui Pembentukan Sistem Kreasi Pengetahuan Pada Lembaga Administrasi Negara

Jenis Inovasi: Konseptual

Kelompok Inovator : Kementrian / Lembaga

Nama Instansi : – Lembaga Administrasi Negara

Unit Instansi : Pusat Inovasi Tata Pemerintahan – Lembaga Administrasi Negara

Penggagas : Dr. Basseng, M.Ed

Kontak Person : Pusat Inovasi Tata Pemerintahan – Lembaga Administrasi Negara Jl. Veteran No. 10 Jakarta Pusat Telp. (021) 3455021 – 025, website: www.lan.go.id

Sumber : Dokumen proyek perubahan Diklatpim & Observasi

Teknik Validasi : Observasi

Tahun Inisiasi : 2014

Tahun Implementasi : 2015


Deskripsi

Pengembangan Budaya Kerja Berorientasi Kualitas adalah sebuah sistem kerja yang mengacu pada sistem kreasi pengetahuan model SECI (Socialization, Externalization, Combination, dan Internalization)

rganisasi yang berkinerja tinggi ditandai dengan value yang kuat untuk bekerja secara berkualitas. Akan tetapi pada kenyataannya value dan budaya kerja yang berorientasi kualitas belum sepenuhnya terbangun di Lembaga Administrasi Negara. Hal ini sebagian disebabkan karena terjadi pemberlakukan struktur organisasi yang baru di Lembaga Administrasi Negara (LAN) sehingga banyak pejabat dan staf yang dimutasi/ dipindah tugaskan. Mereka masih pada tahap mengorientasikan diri dalam bekerja. Di samping itu, budaya kerja yang berorientasi kualitas memang belum melembaga. Akibatnya, berbagai evidence yang menunjukkan bahwa pegawai belum memiliki budaya kerja yang berorientasi pada kualitas muncul. Produk-produk yang dihasilkan LAN masih memiliki sejumlah kekurangan atau belum berkualitas.

Pusat Pengembangan Program dan Pembinaan Diklat (P3D) sebagai pembina program kediklatan tidak luput dari permasalahan itu. Produk-produk pembinaan Diklat yang dihasilkan oleh P3D masih memiliki sejumlah kekurangan atau belum berkualitas. Berbagai kekeliruan pada kebijakan-kebijakan Diklat masih ditemukan, seperti belum fokusnya deskripsi suatu mata Diklat, tidak sinkronnya penghitungan waktu penyelenggaraan Diklat, dan lain-lain. Dalam penyelenggaraan Training of Facilitator (TOF) untuk Diklatpim pola baru misalnya, masih terdapat sejumlah keluhan terhadap kegiatan tersebut. Bahan ajar yang belum lengkap, widyaiswara yang berbeda persepsi terhadap suatu bahan ajar, adalah contoh keluhan-keluhan yang ditujukan kepada kegiatan tersebut. Kualitas produk Pusat Pengembangan Program dan Pembinaan Diklat (P3D) dewasa ini mendapat sorotan baik eksternal maupun internal.

Program ini dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan suatu sistem kerja yang memungkinkan pegawai P3D dapat meningkatkan kualitas pekerjaannya. Sistem kerja ini berisikan seperangkat rangkaian kegiatan untuk mengkreasi pengetahuan. Manfaat yag diharapkan dari program ini adalah dihasilkannya pegawai negeri sipil yang kompeten melalui penyelenggaraan Diklat dapat terpenuhi.

Pengembangan Budaya Kerja Berorientasi Kualitas (BKBK) ini berisikan sejumlah milestones yang bertujuan untuk mengembangkan BKBK pada Pusat Pengembangan Program dan Pembinaan Diklat, dan kemudian dikembangkan pada Kedeputian Diklat Aparatur dan Kedeputian Bidang Inovasi Administrasi Negara, Lembaga Administrasi Negara. Instrumen yang akan dipergunakan untuk membangun budaya kerja tersebut adalah sistem kreasi pengetahuan model SECI (Socialization, Externalization, Combination, dan Internalization), yaitu suatu instrumen untuk mengkreasi pengetahuan guna menopang peningkatan kualitas pekerjaan.  Instrumen bertujuan untuk mengukur tingkat persepsi pegawai terhadap pentingnya empat kegiatan tersebut, dan tingkat frekuensi mereka melakukan empat kegiatan tersebut. Instrumen ini diperkuat dengan insentif yang diberikan kepada pegawai seperti  1) pemberian nilai kinerja hingga 100; 2) pemberian gelar Pegawai Berbintang BKBK; 3) memajang foto Pegawai; 4) Pemberian penghargaan secara informal.

Untuk melancarkan proses perubahan tersebut, strategi yang dilakukan adalah 1) Pembuatan sistem kerja yaitu sistem kreasi pengetahuan yang memungkinkan pegawai dapat meningkatkan kualitas pekerjaannya; 2) Penerapan beberapa karakteristik dari sistem kerja berorientasi kualitas; 3) Menetapkan insentif yang dapat diberikan sebagai konsekuensi hasil kinerja; 4) Pembudayaan sistem kerja berorientasi kualitas; 5) Promosi sistem kerja ini untuk diterima sebagai budaya kerja berorientasi kualitas di lingkungan Kedeputian Diklat Aparatur dan Kedeputian Bidang Inovasi Administrasi Negara.  Stakeholder yang terlibat dalam program ini adalah Pusat Pengembangan Program dan Pembinaan Diklat (P3D), pihak eksternal P3D seperti jajaran pimpinan tinggi dan widyaiswara, dan  pihak eksternal LAN seperti  pimpinan lembaga-lembaga Diklat, widyaiswara di seluruh Indonesia. Mereka ini yang akan terkena dampak dari proyek perubahan ini dan memerlukan kepemimpinan untuk mengarahkan mereka mendukung proyek perubahan ini. BKBK ini akan diterapkan pada Kedeputian Diklat Aparatur dan Kedeputian Bidang Inovasi Administrasi Negara di Lembaga Administrasi Negara.

 

Detil Inovasi

 
 

Faktor pendorong berhasilnya program ini adalah

  1. Dukungan yang kuat dari pimpinan dan Tim Efektif;
  2. Adanya insentif yang diberikan kepada pegawai seperti pemberian nilai kinerja hingga 100, Pemberian penghargaan secara informal.
  3. Adanya rasa kepemilikan produk yang dihasilkan dari pengembangan budaya kerja.
 

Faktor pengembangan budaya kerja berorientasi kualitas adalah

  1. Cara baru, yang tidak familiar bagi mereka selama ini. Cara ini menimbulkan tantangan dan kesulitan bagi mereka, karena mereka sudah terbiasa bekerja dengan cara yang mereka anggap baik selama ini.
  2. Mengeluarkan mereka dari comfort zone atau zona nyaman, maka perubahan ini menimbulkan resistensi.
  3. Penolakan stakeholder tertentu karena dinilai tidak menguntungkan seperti tidak terpakainya pengetahuan yang selama ini dimiliki, perlunya mengeluarkan tambahan waktu, tenaga, dan pemikiran untuk mempelajari pengetahuan baru.

Alternatif solusi yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah

  1. Merekayasa sistem punishment dan reward untuk memotivasi staf dalam melaksanakan instrumen SECI
  2. Menyebarkan good news (berita baik) tentang produk-produk yang kualitasnya sudah meningkat berkat penggunaan instrumen SECI
  3. Melakukan framing terhadap staf yang masih resistance dengan komunikasi yang terarah dan intensif.
 

Pelaksanaan pembangunan satu peta melalui percepatan penyusunan tatalaksana integrasi dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut:

  1. Membangun Sistem Kerja berorientasi kualitas dengan metode SECI
  2. Menerapkan beberapa karakteristik budaya kerja berorientasi kualitas
  3. Memantapkan budaya kerja berorientasi kualitas
  4. Membangun budaya kerja berorientasi kualitas pada 4 Kedeputian Bidang Diklat Aparatur dan Kedeputian Bidang Inovasi Administrasi Negara
 

Kemanfaatan dari pengembangan budaya kerja berorientasi kualitas ternyata melebihi dari apa yang diharapkan ketika gagasan ini diusulkan. Kemanfaatan implementasi program tersebut dirasakan oleh dua pusat yang dipimpin .

  1. Dihasilkannya produk berkualitas seperti Peraturan-Peraturan Kepala Lembaga Administrasi, Panduan-Panduan Teknis dalam penyelenggaraan Diklat, Modul-Modul Pembelajaran, dan Sistem Informasi Diklat yang berbasis teknologi, kegiatan-kegiatan pembimbingan.;
  2. Penyelenggara Diklat terlaksana secara profesional dan berkualitas;
  3. Dihasilkannya PNS/ASN  yang kompeten,  bekerja  dengan berorientasi kualitas.

Di samping manfaatnya pada Pusat Pengembangan Program dan Pembinaan Diklat, Proyek Perubahan ini juga telah menghasilkan manfaat pada Pusat Inovasi Tata Pemerintahan dengan telah dihasilkannya produk-produk yang berkualitas. Dengan produk-produk tersebut, Pusat Inovasi Tata Pemerintahan dapat memfasilitasi tiga pemerintah daerah (Kota Yogyakarta, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Muara Enim).

Capaian pengembangan budaya kerja berorientasi kualitas adalah

  1. Terbangunnya sistem kerja Budaya Kerja Berorientasi Kualitas dengan mengadaptasi sistem kreasi pengetahuan model SECI;
  2. Dihasilkannya produk yang berkualitas seperti bahan ajar diklat, pedoman akreditasi, desain diklat prajabatan pola baru berskala kecil , peraturan kebijakan dan lainnya;
  3. Diterapkannya sistem kerja Budaya Kerja Berorientasi Kualitas pada 2 pusat di Lembaga Administrasi Negara yaitu Pusat Pengembangan Program dan Pembinaan Diklat (P3D)
 

Pengembangan budaya kerja berorientasi kualitas informasi dapat direplikasi di wilayah lain dengan cara sebagai berikut

  1. Adanya dukungan yang kuat dari pimpinan dan Tim Efektif;
  2. Komitmen pimpinan unit cukup kuat;
  3. Kesadaran sendiri untuk mempelajari konsep, prinsip dan praktek SECI;
  4. Insentif khusus terkait hasil kinerja yang dihasilkan dari penerapan program ini.
 

Inovasi Lainnya